Kopi Tubruk

Image via Wikipedia

Pada suatu hari, sekelompok alumni sebuah universitas terkenal berkumpul di rumah sang profesor.

Mereka berbincang dan bercanda, melepas rindu karena lama tak bersua.

Percakapan demi percakapan kemudian berlanjut, dan entah siapa yang memulai, keluhan demi keluhan tentang stres pekerjaan pun berangsur keluar dari semua mulut.

Profesor kemudian beranjak dari tempat duduknya dan kembali dengan membawa sepoci penuh kopi yang harum baunya.

Tak lupa ia membawa serta aneka cangkir dari bahan kristal, porselen, gelas, melamine dan plastik.

Ia mempersilahkan masing-masing muridnya itu memilih cangkir untuk kopi mereka.

Dan seperti yang sudah diduga oleh profesor, semua berebut mendapatkan cangkir paling bagus.

Sementara itu tak ada yang memilih cangkir plastik. Ia terkekeh dan mulai bertutur:

“Nah, itulah kalian saat ini. Semua berusaha dan berlomba mendapatkan cangkir yang paling bagus dan paling mahal. Tak jarang kalian menginginkan cangkir orang lain yang lebih bagus. Padahal kalau dipikir-pikir yang lebih penting adalah kopinya. Kalian hanya ingin menikmati kopi saja, bukan cangkirnya kan?”

Semua muridnya masih bingung dan tak mengerti.

Satu per satu profesor memandang wajah mereka.

“Begini… coba kalian renungkan. Anggap saja kopi adalah kehidupan, sedangkan pekerjaan, posisi, status, dan uang adalah cangkir-cangkir yang kalian pakai. Kalian terlalu sibuk memilih cangkir-cangkir dan lupa menikmati kopi yang diberikan oleh Tuhan secara cuma-cuma. Cangkir apapun yang kalian gunakan, sebenarnya rasa kopi itu masih nikmat. Tanpa kalian perlu memilih-milih atau menginginkan cangkir orang lain.”

Nikmatilah kopinya, bukan cangkirnya…

Salam

Advertisements

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

51 responses »

Comment navigation

  1. kopi dari Tuhan, gimana kalo lemontea aja bun? hehehe
    bener yah, yg terpenting kan kopinya 😦

    kalau wadahnya jelas gak bisa diminum 😛
    salam

  2. hellgalicious says:

    widih mengena banget nih tulisan bunda
    kebanyakan manusia saat ini emang masi fokus dengan pekerjaan, harta, kekayaan, dan lainnya tanpa memikirkan makna kehidupan

    alhamdulillah, semoga bermanfaat ya Mas Hellga.
    itulah manusia , selalu mengejar sesuatu yg kadang bikin pusing sendiri, intinya kurang bersyukur ya 🙂
    salam

  3. citromduro says:

    tuhan tidak membagikan pekerjaan, tapi rejeki tersebat diseluruh permukaan bumi ini

    dan, kitalah yg menjemput rezeki itu ya Mas,
    rezeki tdk akan pernah salah alamat juga ya Mas Citro 🙂
    salam

  4. Nandini says:

    sekali lagi saya lebih suka green tea tanpa gula daripada kopi.. 😥

    bunda juga suka gren tea, tapi minum kopi juga Dini sayang 🙂
    salam

  5. whitecalla says:

    yups…terkadang kita sering lupa berterimakasi…padahal terkadang hanya dengan berterimakasi saja sudah cukup. Tuhan ngga akan ngasi kopi yg bukan jadi jatah kita…

    setuju sekali, kita manusia itu banyak maunya dan jarang sekali bersyukur 😦
    salam

  6. ehm … analogi yang luar biasa …
    salut deh uat pak profesor … gak percuma jadi prof …

    profesornya bijak ya Burhan ,
    nanti Burhan juga bisa sebijak sang profesor 🙂
    salam

  7. wardoyo says:

    Inspiratif sekali. Saya suka analoginya seperti saya suka kopi panasnya… hmmm

    yuk, ngopi………… 🙂
    terimakasih ,Mas 🙂
    salam

  8. rizarahmi says:

    terimakasih sudah mengingatkan, Bund…
    memang kadang kita tertipu kemasan, sehingga lupa mengedepankan isi. filosofi yang menarik 🙂

    padahal yg paling penting, khan isinya ya Riza 🙂
    salam

  9. munir ardi says:

    apa yang salah dengan saya kok selalu telat kesini membaca wejangan dan perenungan yang selalu mencerahkan di blog bunda

    whuaaa……….. Mas Munir itu pinter banget kalau memuji 😳
    salam

  10. ais ariani says:

    iyah bund, bener banget.
    kadang kita suka lupa untuk menikmati kkopi itu
    terimakasih bunda, sudah diingatkan

    🙂

    padahal kopi dr Tuhan selalu istimewa ya Mbak Ais 🙂
    salam

  11. harumhutan says:

    aku ndak suka kopi bund,piyee 😀

    jadi nikmati isinya ,bukan tempatnya 🙂

    setuju dgnmu Wi3nd 🙂
    salam

  12. anung says:

    hehehe boleh juga ceritanya tuh, inspiratif, tapi ngomong-ngomong itu cerita nyata ya bun?

    terimakasih, Anung
    gak ok, hanya ilustrasi aja kok Nung 🙂
    salam

  13. achoey says:

    wah nikmatnya 🙂
    Salam persohiblogan
    Lama tak bersua. Maaf karena kesibukan membuat saya sulit BW.
    Baru sempet nih, itu pun sekedar sapaan sembari lewat. 🙂
    Mohon Maaf Lahir & Bathin

    apa kabar A?
    semoga selalu sehat ya ,amin
    bunda juga mohon maaf lahir dan bathin ya A.
    salam hangat utk istri tercinta 🙂
    salam

  14. aldy~PF says:

    Kopi yang nikmat, akan semakin nikmat jika diletakan dalam cawan yang tepat 😀

    apalagi kalau boleh nambah, gak hanya dua cangkir ya Mas Aldy 😛
    salam

  15. Mood says:

    Yang penting isinya ya Bun, walaupun kadang casing menggoda dan menarik pandangan mata.

  16. hudaesce says:

    wouw……….,nice post here Bunda.sungguh artikel yang sangat memberikan pencerahan tentang hidup yang kita jalani.Thanks untuk share nya ya Bunda.

    Alhamdulillah, terimakasih juga ya Huda 🙂
    salam

  17. Winstrol says:

    There should be more articles like this one on the web. Very well written, I enjoyed reading it.

    thank you for your compliment 🙂
    best regards

  18. Bunda….
    *Hugs erat*
    Bunda benar, cerita ini bener-bener dapet banget kalau di sebarin ke teman-teman Hani 🙂
    Bunda, Hani ijin nyebarin cerita ini ke teman-teman main Hani yah…..
    Salam hangat dan sayang selalu 🙂

    silakan Hani sayang , dgn senang hati 🙂
    semoga ada manfaatnya ……..
    (* peluk sayang*)
    salam

  19. 'Ne says:

    wuih Bunda keren nih critanya hehe. bener2 jadi renungan ya, karena kebanyakan dari kita memang begitu termasuk saya.. makasih Bunda, akan dinikmati kopinya bukan cangkirnya 😀

    alhamdulillah, terimakasih ‘Ne ,
    semoga bermanfaat 🙂
    salam

  20. betol!

    dapat 100 dong ya Mbak Juli 🙂
    salam

Comment navigation

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s