Glass-of-water

Pi.Courtesy of : creepypasta.wikia.com

 

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya
belakangan ini selalu tampak murung.
” Kenapa kau selalu murung, nak ? Bukankah banyak hal yang indah di
dunia ini ? Ke mana perginya wajah bersyukurmu ? ” sang Guru bertanya.

” Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, ” jawab sang
murid muda.

Sang Guru terkekeh.
” Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat.
Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana
yang diminta.

” Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata
Sang Guru.
” Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air
asin.
” Bagaimana rasanya ?” tanya Sang Guru.
” Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis
keasinan.

” Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
tempat mereka.
” Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa
bicara.
Rasa asin di mulutnya belum hilang.

Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya.
Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

” Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil
mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir
danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan
membawanya ke mulutnya lalu meneguknya.
Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, ” Bagaimana rasanya ?”

” Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber
air di atas sana .
Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang
tersisa di mulutnya.

” Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi ?”
” Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,
membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

” Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.
Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurangtidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang haruskau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah swt, sesuai
untuk dirimu” .

Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah.
Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian.
Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.

Si murid terdiam, mendengarkan.

” Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu'(hati) yang menampungnya.
Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas.
Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.

 

 

 

Salam

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

11 responses »

  1. rumah joglo says:

    keren Bun nasehatnya kadang kita melihat suatu masalah terlalu sempit dan menjadikan kita tersiksa diri

  2. Regina says:

    Bunda, ceritanya bagus bangeet … jadi bahan intropeksi utk diri saya yg juga masih banyak kurangnya tapi suka sok tahu … nuhun ya bunda

  3. Suse hereleni says:

    Always inspiring….#hugs

  4. Monna says:

    Bagus banget artikelnya. Jadi semakin menguatkan. Sehingga sebesar apapun masalahnya tetap seperti segenggam garam, dan hanya diri sendiri yang bisa mengubah pikiran kita dengan ingat kepada Tuhan. Terimakasih🙂

  5. usagi says:

    love this mam,,,,inon suka galau kalau liat masalah ya karena itu ,,karena sempit ngeliatnyaa

  6. Tian says:

    setuju bunda.. hati harus seluas danau, agar setiap masalah yg terjadi tak lantas membuat kita gusar.. terima kasih perenungannya bun..

  7. terimakasih bunda sudah mengingatkan…….ya…kadang sebagai manusia selalu merasa maslah itu jadi beban yang berat. salam malam

  8. […] rasa bahasa yang biasanya menyertai. Memang baiknya rutin menulis seperti yang dicontohkan oleh dua senior ini, yang sudah menerbitkan sejumlah karya buku. Untuk teman² yang sudah rutin menulis, […]

  9. alrisblog says:

    Jadi kalo ada masalah luaskan hati menerimanya ya bunda. Mantap.

  10. MS says:

    perumpamaan yang bagus banget.., aku mau jadikan hatiku seluas danau
    thanks for share mam

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s