ef4175b972a66f5abec17b4519e7499d

Pic. Courtesy of : derekvillar.com

 

Di suatu tempat di tepian sungai, seorang pemuda memandangi seorang pemancing tua.
Sambil duduk beralas daun pisang, Pak Tua begitu menikmati kegiatan memancing.
Ia pegang gagang pancingan dengan begitu mantap.
Sesekali, tangannya membenahi posisi topi agar wajahnya tak tersorot terik sinar matahari.
Sambil bersiul, ia sapu hijaunya pemandangan sekitar sungai.
Sang pemuda terus memandangi si pemancing tua.

“Aneh ? ” ucapnya membatin.
Tanpa sadar, satu jam sudah perhatiannya tersita buat Pak Tua.
Tujuannya ke pasar nyaris terlupakan.
“Bagaimana mungkin orang setua dia bisa tahan berjam-jam hanya karena satu dua ikan ? ” gumamnya kemudian.

” Belum dapat, Pak ? ” ucap si pemuda sambil melangkah menghampiri Pak Tua.
Yang disapa menoleh, dan langsung senyum.
” Belum,” jawabnya pendek.
Pandangannya beralih ke si pemuda sesaat, kemudian kembali lagi ke arah genangan sungai.
Air berwarna kecoklatan itu seperti kumpulan bunga-bunga yang begitu indah di mata Pak Tua.
Ia tetap tak beranjak.
” Sudah berapa lama Bapak menunggu ? ” tanya si pemuda sambil ikut memandang ke aliran sungai.
Pelampung yang menjadi tanda umpan dimakan ikan, terlihat tak memberikan tanda-tanda apa pun.
Tetap tenang.
“Baru tiga jam,” jawab Pak Tua ringan.
Sesekali, siulannya mendendangkan nada-nada tertentu.
“Ada apa, Anak Muda?” tiba-tiba Pak Tua balik tanya.
Si Pemuda berusaha tenang.
” Bagaimana Bapak bisa sesabar itu menunggu ikan?” tanyanya agak hati-hati.
“Anak Muda,” suara Pak Tua agak parau.
” Dalam memancing, jangan melulu menatap pelampung.
Karena kau akan cepat jenuh.
Pandangi alam sekitar sini.
Dengarkan dendang burung yang membentuk irama begitu merdu.
Rasakan belaian angin sepoi-sepoi yang bertiup dari sela-sela pepohonan.
Nikmatilah, kau akan nyaman menunggu ! ” ucap Pak Tua tenang.
Dan ia pun kembali bersiul.

Tak ada kegiatan yang paling membosankan selain menunggu.
Padahal, hidup adalah kegiatan menunggu.
Orang tua menunggu tumbuh kembang anak-anaknya.
Rakyat menunggu kebijakan pemerintahnya.
Para gadis dan pemuda menunggu jodohnya.
Pelajar atau mahasiswa/i menunggu selesai sekolah atau kuliahnya.
Pegawai menunggu tanggal gajiannya.
Semua menunggu.
Namun, jangan terlalu serius menatap ”pelampung” yang ditunggu.
Karena energi kesabaran akan cepat terkuras habis.
Kenapa tidak mencoba untuk menikmati suara merdu pergantian detak jarum penantian, angin sepoi-sepoi pergantian siang dan malam, dan permainan seribu satu pengharapan.
Nikmatilah………………
Insya Allah, menunggu menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan.
Seperti memandang taman indah di tepian sungai.

 

 

Salam

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

4 responses »

  1. Citra Indah says:

    Bisa nikmat ya menunggu , kita akan senang apa bila yang ditunggu itu pasti🙂 ,sukses bunda

  2. murtiyarini says:

    saya hampir selalu kesal saat menunggu. Terimakasih Bunda, tulisannya inspirasi baru buat saya

  3. Pakde Cholik says:

    Saya nunggu terbitnya buku juga nich
    Memang harus sabar karena di meja editor banyak naskah yang masuk
    Terima kasih kisahnya yang inspiratif
    Salam sayang selalu dari Surabaya

  4. Super sekali. Seperti naik gunung juga, jangan terlalu serius dengan ‘puncak gunung’, tapi juga nikmati perjalanan tafakur alam.🙂

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s