Selamat Hari Ibu

Pic. Courtesy of : a-az.blogspot.com

 

Manusia itu beraneka ragam, demikian juga perempuan.
Tetapi, ketika jadi ibu, tiba tiba ia harus memasuki peran baku yang seolah-olah tidak bisa mengakomodasikan berbagai perangai, kecenderungan dan konteks perempuan.

Seolah hanya ada satu jenis ibu yg ideal:” yang berkorban tanpa pamrih “, selain menempatkan anak dan keluarga diatas segalanya.

Meskipun bekerja dan berkarier , tanggung jawab utama membesarkan anak tetap ada pada ibu, tetapi jika ada sesuatu yang tidak beres, maka yang disalahkan ibu juga.
Disatu pihak, pendidik penerus bangsa, dilain pihak, kambing hitam.

Padahal didalam hidup bermasyarakat yang kian sulit dan kompleks, begitu banyak faktor yang bisa memicu persoalan didalam perkembangan anak, bagaimana perempuan tidak tertekan akibat beban moral, psikologis, dan sosial yang dipikulkan pada mereka ?

Sebagaimana tak mungkin ada manusia atau perempuan ideal, juga tidak ada ” ibu ideal “. Namun demikian, di Indonesia seperti halnya dibanyak negara barat, terjadi idealisasi peran ibu, meski ibu (secara biologis) ada sejak awal kemanusiaan, tetapi konsep “keibuan”(motherhood) relatif baru, ketika kemudian terjadi pelanggaran norma norma keluarga, ibulah yang di idealisasikan.

Apa sebenarnya idealisasi ?

Menurut Ann Dally dalam bukunya ” Inventing Motherhood “ idealisasi adalah rasa cinta…….(kagum atau pengagungan) terhadap sesuatu atau seseorang yang dibarengi rasa benci.
Cinta tersebut tidak realistis, karena terpisah dari kebencian yang sebenarnya menyatu dengan cinta tersebut.
Akibatnya, idealisasi didukung persepsi palsu atau distorsi, karena tidak menghendaki kebencian tersebut muncul pada pikiran sadar, idealisasi juga biasanya sarat nada moral dan religius.

Idealisasi bersifat memenjarakan, karena sifatnya baku tidak mengikuti perkembangan konteks sosial maupun pribadi yang di idealkan.
Idealisasi – disebut juga romantisasi – pada dasarnya bersandar pada ilusi standar-standar yang sulit, bahkan tidak mungkin dipenuhi.

Akibatnya, selalu ada bahaya di-ilusi-kan alias kecewa dan inilah yang cenderung terjadi dalam hubungan yang di idealisasikan atau diromantiskan.
Namun, dalam prakteknya idealisasi selalu kita lakukan.

Bukan hanya terhadap peran ibu, tetapi juga terhadap pacar, politisi, pahlawan, ideologi negara, sistem politik maupun budaya bangsa.

Jika pacar sudah jadi suami atau istri, baru ketahuan sisi-sisi negatifnya, kalau sistem politik atau ideologi negara begitu diagung agungkan sebagai tak ada duanya didunia, semakin nyata bahwa realitanya berbeda, bahkan berlawanan.

Ibu diagungkan, disanjung sebagai tiang negara dan pendidik generasi penerus bangsa , tetapi dilain pihak sedikit sekali yang dilakukan bagi para ibu, kecuali digunakan sebagai sumber tenaga kerja murah.

Kenyataannya, perempuan lajang atau belum punya anak mendapat prioritas kerja, malah bila ketahuan punya anak, bisa bisa dipecat.

Padahal bagi kebanyakan perempuan miskin, bekerja adalah salah satu cara menjadi ” ibu yg baik ” mencari nafkah untuk menghidupi anak anaknya, bahkan, ada yang rela meninggalkan anak anaknya jauh keluar negeri untuk menjadi TKW mengurus keluarga dan anak orang lain, ironisnya, demi menghidupi anak anaknya sendiri.

Jadi jelas, kultus sosial keibuan bergandengan tangan dengan ketidakberdayaan mereka dalam sosial-ekonomi.
Ini adalah kontradiksi dalam peran mereka didalam keluarga, dan peran mereka dalam dunia tenaga kerja: yang satu menyangkal lainnya.

Idealisasi berbeda dari kekaguman karena orang mengidealisasi membutuhkan seseorang yang ” sempurna ” dan mengabaikan sifat-sifat orang yang diidealisasi yang tidak “klop”.
Ilusi “kesempurnaan” dicapai dengan memisahkan kebencian dari cinta terhadap yang di-idealisasi- kan.

Misalnya : seorang suami mengidealisasi istrinya, tetapi menghina perempuan lain atau memiliki wanita lain serta menggunakan pelayanan pelacur (yang dibencinya) karena menganggap istrinya terlalu “murni” untuk melakukan praktek praktek seksual tertentu.

“Khan dia ibunya anak-anak, mana mungkin ???” begitulah alasannya.

Ini juga salah satu sebab mengapa pelacuran sukar diberantas dan karena ini juga merupakan sisi lain atau “pelengkap” perkawinan.

Bisa juga sang suami tetap menyalurkan kebencian atau cemooh pada istri “ideal”nya dengan mengontrolnya: tidak boleh bekerja, tidak boleh melakukan apa-apa diluar rumah sendiri (selalu berbaik hati mengantar, padahal ingin mengawasi), selalu ingin dilayani ( tidak ada yang memasak/menyetrika baju/membuatkan teh/kopi seenak buatan istriku), pembagian kerja yang kaku, secara halus merendahkannya (” nanti kamu terlalu capek, sayang ” atau ” kamu terlalu cantik untuk melakukan pekerjaan seperti itu, lagipula bagaimana dengan anak-anak, mereka membutuhkanmu “).

Lama kelamaan sang istri kehilangan jati dirinya dan sekedar menjadi embel-embel suami, tetapi akibat idealisasi – disanjung sanjung terus dalam retorika dan UU – sulit bagi perempuan untuk protes atau bahkan tidak tahu apa yang mau diprotes.

Bagi banyak wanita modern, membesarkan anak tanpa bantuan sang ayah (yang sibuk mencari nafkah) meskipun kepuasannya besar, adalah beban yang berat, barangsiapa menyangkal hal ini, jelas-jelas melakukan idealisme yang menjerumuskan.

Perempuan yang membiarkan dirinya terjebak dalam kultus keibuan seringkali juga kecewa akhirnya, bisa dimaklumi jika seorang ibu yang tidak punya kuasa atau kontrol lain dalam hidupnya, berusaha meyakinkan dorongan tersebut melalui anaknya.

Jika ia sudah 100% memainkan perannya sebagai istri dan ibu “ideal” tetapi suami atau anaknya tidak menjelma sesuai keinginannya, maka ia akan berkata ” apa kurangnya lagi saya berkorban ???”.

Seringkali, apa yang disebut “menjadi orang tua yang baik” adalah rasionalisasi sikap posesif yang berlebihan, anak diikat pada ibu, dan menjadi obyek yang dimanipulasi bagi kepuasan pribadinya (orang tua).

Idealisasi adalah sebenarnya salah satu cara untuk mentolerir keadaan yang sebenarnya sudah tidak dapat ditolerir lagi, tanpa harus menghadapinya atau mengakuinya, idealisasi menghambat pemahaman dan sekedar membawa kita berputar-putar dalam lingkaran setan.

Jadi, mengapa idealisasi terus berlangsung dan bahkan terjadi semacam neo-konservatisme yang ingin mendomestikkan perempuan kembali ????
Sesungguhnya, kita sedang mengalami krisis peran keibuan karena akibat krisis sosial yang lebih luas.

Tidak mudah menjadi ibu dizaman sekarang, tetapi akan lebih sulit lagi dimasa depan.
Disaat kebutuhan ekonomi dan sosial bagi wanita untuk bekerja makin besar, semakin sedikit bantuan yang diberikan pada wanita, terutama yang menjadi ibu.

Kebanyakan pekerjaan modern tidak selaras dengan konsepsi keibuan masa kini, perubahan sosial terjadi pada kecepatan yang amat dahsyat, persoalan ekonomi silih berganti, resesi, inflasi, persaingan ekonomi, kesemuanya menciptakan masalah yang khusus bagi ibu dan anak.

Anak anak merupakan investasi jangka panjang, padahal iklim kapitalisme sekarang seringkali berpedoman pada keuntungan segera, bahkan sesaat.
Karena kebutuhan ekonomi, semakin banyak ibu ibu yang perlu bekerja diluar rumah, padahal pekerjaan semakin berkurang dan persaingan semakin ketat, kalaupun pekerjaan ada, tidak ada fasilitas bagi anak.

Bagi ibu kelas sosial menengah keatas solusinya jelas: pembantu.
Tetapi, bagi ibu kelas bawah, masalahnya kian sulit.

Kerja tani dikampung, masih ditunjang dengan kehadiran sanak saudara dan orang tua yang membantu membesarkan anak, tetapi ketika pekerjaan di desa berkurang, dan kita memasuki era industrialisasi ekonomi, persoalannya semakin rumit, pabrik-pabrik tidak menyediakan tempat penitipan anak, sedang suami-suamipun bekerja, sanak saudara jauh, pernah ada yang mensinyalir bahwa generasi berikutnya adalah generasi yg dibesarkan “babu “.
Ini jauh lebih baik ketimbang anak yang tidak dibesarkan siapa-siapa sama sekali.

Idealisasi ibu berfungsi melimpahkan tanggung-jawab membesarkan anak pada ibu dengan demikian mengurangi tanggung-jawab pemerintah.
Setelah anak masuk sekolah, terutama pada masa remaja, negara dan pemerintah turut bertanggung-jawab.

Berarti, jelas bapak-bapak pejabat yang menciptakan iklim ekonomi, sosial dan politik ikut bertanggung-jawab atas kualitas generasi muda indonesia.

Idealisasi adalah pembohongan.
Tabir yang menyelimuti perlakuan buruk terhadap perempuan, pada akhirnya, yang rugi kita semua : ibu, anak, bangsa dan negara.

 

 

 

Salam

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

9 responses »

  1. Citra Indah says:

    Ibu adalah segalanya ,IBU itu yang bikin hati kita sejuk , kalo UBI yang bikin perut kita kenyang😀 hehe Love you mom ({})

  2. joni says:

    bagaimanapun ibu adalah madrasah pertama bagi anak2nya🙂 hehe meskipun dari luar banyak input negatif namun jika anak sudah dibekali dengan baik dari dalam insyaAllah tetap jadi anak yg berkualitas🙂

  3. Jangan lupa, ibu adalah seseorang yang namanya disebutkan oleh Nabi Muhammad sebanyak 3 kali sebagai orang yang harus diberikan bakti. Karena berbakti pada ibu, tentu saja membuka peluang kita masuk surga lebih besar.
    Terima kasih atas pencerahannya mas, bermanfaat sekali…🙂

  4. Saya biasa memandang enteng pekerjaan seorang ibu/istri.pada suatu saat saya coba kerjakan pekerjaan dia seharian.dari mulai nyapu lantai,ngepel,nyuci,nyuapin anak,nyuci sepatu cuman enggak masak doang..dan hasilnya luar biasa capenya.dari situ saya tau rasanya..dan sekarang ga berani lagi ngomel2 ga karuan🙂

  5. Abdullah says:

    Assalamu alaikum Sesungguhnya Islam telah memberi tempat yang mulia bagi seorang wanita

  6. prih says:

    Perenungan yang mendalam atas diri perempuan dan ibu. Terima kasih Bunda Ly….menyimak dengan takzim pencerahan ini.
    Salam hangat

  7. Abshar Fatih says:

    Setuju bunda, untuk memberikan yg terbaik kepada generasi muda. “idealisasi” saja tidak cukup

  8. claudia says:

    nice share , semua yang baik akan berbalas dengan kebaikan juga.

  9. ysalma says:

    Jika perempuan di sebuah negara mendapatkan perlakuan baik bukan sebatas ‘idealisasi’ maka generasi muda yang terlahir otomatis baik ya Bund, secara semua aspek ikut mendukung dengan baik.

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s