indosinema.com

Salah satu karya sastra pujangga baru Indonesia yang menjadi bacaan wajib anak-anak sekolah kini diangkat ke layar lebar.
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA, ditulis awalnya sebagai cerita pendek bersambung yang diterbitkan di sebuah majalah tahun 1938.
HAMKA menuliskan kisah rekaan tentang cinta Zainuddin dan Hayati yang akhirnya ditentukan oleh sebuah peristiwa nyata tenggelamnya kapal Van Der Wijck di tahun 1936.

Sunil Soraya, sutradara film Eiffel I`m In Love, mengaku mendapatkan bukunya dan memerlukan waktu lima tahun untuk melakukan riset dan persiapan sebelum film berdurasi tiga jam ini siap dibuat.

Ambisi dan persiapan di bawah komando Sunil untuk film yang inginnya setia pada esensi novelnya ini memang terlihat tak main-main.
Soraya Intercine Film mengadaptasi novel HAMKA dengan lebih baik dan matang dari film adaptasi yang dibuat sebelumnya, Di Bawah Lindungan Ka`bah.
Kisah tentang perjalanan seorang pemuda keturunan Minang yang beribu Makassar, ingin mempelajari agama Islam ke Batipuh, Padang Panjang.

Namun sanak keluarga ayahnya serta warga Batipuh menolak Zainuddin (Herjunot Ali) karena ia tak dianggap sebagai orang Minang betulan.
Setelah berkenalan dengan gadis cantik Hayati (Pevita Pearce) yang merupakan putri dari tetua pemimpin di Batipuh, Zainuddin mulai curhat lewat surat-suratnya kepada Hayati.
Ketika keduanya saling berbalas cinta, situasi memaksa Zainuddin keluar dari Batipuh.
Hayati berjanji untuk setia dan menunggu kekasihnya tersebut.

Di Padang, Hayati berkenalan dengan Aziz (Reza Rahardian), pemuda Minang kaya raya yang hidup mewah dan bergaul bersama orang-orang Belanda.
Hayati harus menerima pilihan tetua kampung yang menikahkan dirinya dengan Aziz. Patah hati ditinggal Hayati, bersama preman bernama Muluk (Run-D Nidji), Zainuddin merantau ke Batavia, kemudian Surabaya.

Ia sukses menjadi penulis dan pemimpin redaksi koran di Surabaya.
Di kota inilah ia bertemu kembali dengan Hayati dan Aziz, yang memerlukan bantuan akibat kebangkrutan mereka.
Akhir kisah cinta segitiga ini akhirnya ditentukan oleh peristiwa tenggelamnya kapal Van Der Wijck.

Yang agak mengecewakan secara visual mungkin adalah adegan kehadiran kapal hingga tenggelamnya kapal, yang tak terlalu menghadirkan suasana ngeri karamnya sebuah kapal, bahkan animasinya kurang sempurna.
Namun barang-barang seperti payung, mobil, topi, lemari, meja, kamera, hingga rumahnya benar-benar dihadirkan seolah dari jaman yang sama, tak berusaha menipu untuk mewujudkan latar tempat yang sesuai novelnya.

Banyak yang mungkin terkejut dan tak biasa dengan dialog-dialog berlogat Minangkabau dan Makassar, serta kosa kata puitis nan romantis seperti yang tertuang dari novelnya.
Dialek dan logat yang khas itu berpotensi menimbulkan kesan komedi secara audio, meskipun secara visual,  atmosfer yang dominan dari film ini adalah serius, tegang, sedih, tragis, dan marah.
Namun akting dari para pemainnya cukup kuat untuk menjaga film ini berada di jalur yang konsisten dengan nuansa kesenduannya.

Jika mau dibandingkan dengan The Great Gatsby (2013), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck malah lebih berhasil menyatukan musik modern dengan nuansa klasik jaman dahulu filmnya.
Meski demikian adegan pesta di rumah Zainuddin mau tak mau mengingatkan pada The Great Gatsby dengan suasana meriah yang menyembunyikan kegalauan tuan rumahnya.

Film ini juga memberikan sajian pemandangan dan detil sejarah yang penting seperti kehadiran pacuan kuda di Gelanggang Bukit Ambacang (yang memang dibangun pada jaman Belanda), balapan mobil-mobil mewah era 1930-an yang saat ini sulit dicari.

Kekayaan kritik sosial novelnya terhadap kolotnya adat istiadat yang mengesampingkan kebahagiaan, diskriminasi terhadap darah campuran, hidup kaum borjuis yang memandang rendah masyarakat kampung, sikap kurang menghargai karya bangsa sendiri, dan lain-lain disajikan dengan lengkap dan padat dalam film Tenggelamnya Kapal van der Wijck ini.

Salam

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

9 responses »

  1. Suse Herleni says:

    Bunda resensinya bagus🙂 Saya juga berpikir setting tenggelamnya kapal kurang dramatis, tapi mungkin ini karena teknik perfilman kita belum secanggih film2 Hollywood. But anyway ini langkah awal yg cukup dalam perkembangan film tanah air. Setuju untuk akting apiknya Reza, Herjunot, Pevita, dan anak Nidji itu loh *lupa namanya. Permainan Karakter mereka kuat, membuat kita nggak bosen nonton selama 3 jam🙂

    Untuk Bunda, tetap semangat ya….biar bisa nonton film2 bagus dan sharing resensinya buat kita2🙂

    luv,

    Alhamdulilah, terimakasih banyak Mbak Suse utk apresiasinya pd tulisan ini🙂

    setuju sangat, durasi yang hampir 3 jam ini, mampu membuat penonton tetap terpukau dan menikmati tiap scene dan adegan dgn mengagumkan

    luv u too…….as always

    Salam

  2. firmanwy says:

    Film yang pastinya bagus karena diangkat dari karya salah seorang pujangga terbaik yang dimiiki Indonesia. Thanks, Bun…

    setuju sangat, Firman🙂

    salam

  3. joe says:

    tantangan memfilmkan sebuah novel besar biasanya orang akan membandingkan antara novel dengan filmnya

    memang biasanya begitu, Joe
    namun, untuk film yang satu ini, benar2 mengagumkan
    menurut bunda ini salah satu film terbaik saat ini

    salam

  4. vizon says:

    Ini memang salah satu film terbaik menurut saya Bunda.. Dengan durasi yang hampir 3 jam, tidak membuat saya bosan dan tidak ingin melewati adegan demi adegan.. Adegan pasambahan itu keren sangat deh..🙂

    Saya juga menulis reviewnya di blog, Bunda..🙂

    setuju sangat Nyiak
    film ini benar2 mampu membuat penontonnya terpaku dan menikmati tiap adegan,
    semua pemainnya juga mantap ya Nyiak….🙂

    wah, harus ke tekape ini ….🙂
    ( tunggu bunda di tekape ya Nyiak……..ehhehehehe )😀

    salam

  5. Amin says:

    Semoga saja anak-anak bangsa baik yang membuat film dan yang nonton film dapat mengambil isi terbaik yang terkandungnya.

    InsyaAllah………….aamiiin

    Salam

  6. lifestyle says:

    Maksih infonya bunda … setiap ada blog bunda laporannya di emai jarang ndak ku baca


    Duuh, terimakasih banyaaaak ya Imron🙂
    bahagia sekali bunda dgn apresiasinya pd tulisan2 bunda yang seadanya ini
    Alhamdulillaah……

    Salam

  7. lifestyle says:

    makasih infonya bunda ….jadi penasaran apa lagi nyeritain minang karna aku salah satu hasil kawin silang dengan minang tp bkn mkassar aku minang dengn mandailing ….

    sama2, terimakasih juga Imron🙂
    sama dong ya kita, bunda juga berdarah minang🙂

    salam

  8. Salah satu karya terbaik anak bangsa, film yang bagus untuk kita tonton🙂 Terimakasih sharingnya. Salam sukses


    tepat sekali Kang Dadang🙂
    terimakasih banyak utk apresiasinya …

    salam

  9. sayang sekali jaman saya sekolah belum pernah baca dan tahu mengenai kapal ini bun😦 seoga sekarang bisa baca sejarahnya


    sekarang bukunya kembali jadi best seller Lidya,
    dan mudah didapatkan di toko2 buku🙂
    hayuk atuh dibeli , jd bisa ikutan tau ttg buku sastranya HAMKA ini🙂

    Salam

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s