Bila keinginan kita terpenuhi, kita akan senang (bungah), lalu berkembang keinginan baru yang lebih besar (mulur).
Sebaliknya, bila keinginan tidak terpenuhi, kita menjadi sedih (susah), dan kita dapat menyusut (mungkret).

Dalam hidup ini tidak mungkin keinginan seseorang terus-menerus terpenuhi.
Kadang terpenuhi, kadang tidak.
Itulah sebabnya, tidak ada keadaan bungah ataupun keadaan susah yang langgeng.
Senang dan susah selalu silih berganti.

Sebagai salah satu contoh adalah pengalaman hidup Nova (bukan nama sebenarnya).
Ia wanita lajang berusia sekitar 35 tahun.
Bila orang lain banyak yang mengalami susah payah mencari pekerjaan pada masa-masa awal, Nova justru sudah dapat bekerja di sebuah perusahaan ketika masih duduk di bangku kuliah di sebuah kota pelajar.

Dengan bekal sebagai sarjana ekonomi akuntansi dari perguruan tinggi ternama, dan juga keterampilan yang tinggi di bidangnya, setelah lulus, ia dengan mudah mendapatkan pekerjaan baru di Jakarta.

Selama sembilan tahun Nova menekuni pekerjaan pada sebuah perusahaan.
Namun, dalam masa kerja selama sembilan tahun itu ternyata ia tidak bahagia dengan pekerjaannya.
Pertama, ia tidak puas dengan gaji yang diterima.
Setelah menempuh negosiasi dengan pimpinan, akhirnya toh gajinya dinaikkan.

Setelah itu ia masih merasakan ketidakpuasan yang lain, yakni merasa tidak dapat berkembang karena lingkungan kerja yang tidak menantang.
Hal yang sulit diterimanya adalah ”jiwa sosial” pimpinan perusahaan yang mudah menerima siapa saja yang butuh pekerjaan.

Akibatnya banyak karyawan yang kurang berketerampilan sehingga pekerjaan tidak dapat berjalan efisien,
sementara pimpinan tidak melakukan program-program pembinaan karyawan.

Dengan keadaan seperti itu akhirnya Nova memilih pindah ke perusahaan yang lain.
Namun, ternyata keadaan perusahaan baru ini juga kurang sesuai dengan keinginan Nova,
lalu sekali lagi ia pindah ke perusahaan yang lain.
Lebih satu tahun ia bekerja pada perusahaan ini, ternyata akhirnya perusahaan gulung tikar.
Alhasil, sudah tiga bulan ini Nova menganggur.

Dapat dibayangkan bagaimana rasanya sekian lama menganggur.
Keinginan untuk kembali mendapatkan pekerjaan sangat kuat.
Hal ini membuat Nova mengalami perasaan panik, terutama dalam saat-saat mengikuti seleksi masuk pekerjaan.
Semakin kuat keinginannya untuk mendapatkan pekerjaan, ia semakin panik, semakin takut tidak diterima.

Keadaan ini akhirnya membuat Nova merindukan untuk kembali bekerja di perusahaan yang dulu sudah tidak disukai dan ditinggalkannya.
Sifat sosial pimpinan (mudah menerima orang yang butuh pekerjaan) yang dulu tidak disukainya, kini justru didambakan.

Nah, tampak sekali betapa bahagia (bungah) dan sedih (susah) merupakan buah ”permainan” keinginan (karep) yang ada dalam diri sendiri.
Kebahagiaan di awal masa muda karena cepat memiliki pekerjaan telah berkembang (mulur) menjadi keinginan akan pekerjaan yang lebih ideal.

Setelah keinginan tidak terpenuhi, keinginan itu kemudian menyusut (mungkret.
Nova kembali menginginkan pekerjaan yang lama.
Tampak bahwa Nova justru menjadi tidak bahagia karena mengejar pekerjaan yang disangkanya lebih ideal.
Pada akhirnya toh ia kembali menginginkan pekerjaannya semula yang dulu sudah ditolaknya.

Penting: Menemukan Sebab
Suryomentaram, seorang tokoh Psikologi Jawa, menemukan bahwa kebahagiaan itu sesungguhnya hanyalah akibat belaka, seperti halnya kesusahan.
Hal yang lebih penting adalah menemukan sebab dari rasa susah dan rasa bahagia.

Orang perlu menemukan bahwa egoisme adalah sebab rasa celaka (tidak bahagia),
dan hanya dengan menemukan naluri dalam diri yang seperti itu kita dapat menumbuhkan sebab bagi lahirnya rasa bahagia.
Untuk itu Suryomentaram mengajarkan tentang Pengawikan Pribadi, yaitu pengetahuan akan rasa senang dan rasa bencinya sendiri.

Dalam hal olah rasa menemukan pengawikan pribadi ini Ki Ageng Suryomentaram mengungkapkan:

“Di atas bumi dan di kolong langit ini tidak ada barang yang pantas dicari, dihindari, atau ditolak secara mati-matian.
Meskipun demikian, manusia itu tentu berusaha mati-matian untuk mencari, menghindari atau menolak sesuatu, walaupun itu tidak sepantasnya dicari, ditolak, atau dihindarinya.
Bukankah apa yang dicari atau ditolaknya itu tidak menyebabkan orang bahagia dan senang selamanya, atau celaka dan susah selamanya ??.”

Apabila orang mengerti bahwa semua peristiwa itu tidak ada yang mengkhawatirkan dan tidak ada pula yang sangat menarik hati, teranglah pandangannya, serta bebaslah ia dari keterikatan pada barang-barang.

Barang-barang di atas bumi dan di kolong langit itu tidak menyebabkan orang bahagia atau celaka.
Juga tidak menyebabkan orang senang atau susah.
Karena pada hakikatnya, yang menyebabkan senang itu ialah keinginannya tercapai, dan yang menyebabkan susah itu ialah keinginannya tidak tercapai.
Jadi, bukanlah barang-barang yang diinginkannya.

Apa yang dialami oleh Nova di atas merupakan contoh yang cukup jelas, bahwa ternyata pekerjaan itu sendiri (barang duniawi) bukanlah hal yang mendatangkan kesenangan.
Semakin ia mengejar keinginannya akan pekerjaan yang disangkanya mendatangkan kesenangan, ternyata semakin susahlah dia.

Perlu diketahui bahwa keinginan manusia itu pada umumnya bergerak dalam usaha mencari drajat, semat, dan kramat.
Mencari semat berarti mencari kekayaan, keenakan, dan kesenangan.
Mencari drajat berarti mencari keluhuran, kemuliaan, kebanggaan, keutamaan.
Mencari kramat berarti mencari kekuasaan, kepercayaan, agar disegani dan dipuji-puji.

Keinginan merupakan sesuatu yang abadi, yang selalu ada sepanjang hidup manusia.
Manusia itu keinginan.
Manusia itu abadi (lestari), sebentar senang, sebentar susah.
Bila keabadian ini dimengerti, kita akan bebas dari penderitaan neraka penyesalan dan kekhawatiran, keluar dari penderitaan neraka iri dan sombong serta rasa celaka.
Muncullah yang disebut dengan ”manusia tatag”, yaitu manusia yang berani (tidak khawatir) menghadapi keadaan apa pun.
Masuklah ia dalam surga tenteram dan tabah yang menyebabkan orang bersuka-cita dan bahagia.

Hal lain yang juga diajarkan berkaitan dengan pengawikan pribadi, agar dapat menjadi tatag diharapkan orang bertindak sesuai dengan prinsip ”enam sa”: sabutuhe (sesuai kebutuhan)
saperlune (sesuai keperluan)
sacukupe (secukupnya)
sakepenake (menjalani dengan enak)
samestine (sebagaimana mestinya)
sabenere (secara benar).

Mengawasi Keinginan
Setelah bersuka-cita dan bahagia, dapatlah orang menyadari dirinya sendiri sewaktu timbul keinginan apa pun.
Setiap keinginan itu pasti mengandung rasa takut kalau-kalau tidak tercapai.

Untuk itu harus segera diyakini bahwa ”Keinginan itu jika tercapai tidak menimbulkan bahagia, melainkan senang sebentar, kemudian susah lagi.
Bila tidak tercapai pun tidak menyebabkan celaka, hanyalah susah sebentar yang kemudian akan senang lagi.”

Bila kita sudah menyatakan demikian, selanjutnya kita dapat menantang, ”Silakan keinginan berusaha mati-matian mencari senang-senang abadi, dan mati-matian menolak susah abadi, pastilah tidak berhasil.
Kamu (keinginan) tidak mengkhawatirkannya lagi.

Bila kita dapat meyakini keinginan diri seperti itu, lenyaplah rasa prihatin.
Berbarengan dengan lenyapnya rasa prihatin, tumbuhlah si pengawas keinginannya sendiri yang paham akan keinginannya sendiri.

Salam

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

6 responses »

  1. This really is really interesting, You might be an incredibly skilled blogger. I have signed up with your feed and anticipate seeking more of the truly amazing post. Also, I have shared your internet site within my websites!…

    You will find no methods for success…

  2. Pandai-pandai mensyukuri pemberianNYA .

  3. menyimak cerita tersbeut memang manusia itu dihidup di dunia ini selalu saja tidak ada puasnya dan kebanyakan banyak yang serakah??naudzubilaah himindalik

  4. Salam hangat Bu, senang sekali menyimak artikel ini. Memang tidak ada berhenti dalam mencari ketenangan, kesejatian dalam hidup. Proses ini bersamaan dengan denyut kehidupan yang ada.

  5. arhsa says:

    assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Subhanallah, pemaparanya dalam sekali Bunda. Tulisan Bunda menyadarkan saya untuk menikmati dan mensyukuri kerja yang sekarang saya jalani, mudah-mudahan saya bisa istiqomah.

    Ada Ayat Al-Qur`an yang bisa kita jadikan rujukan:

    وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ البقرة: 216

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)”

    Menyambung silaturrahim Bunda.

  6. LJ says:

    Mammm.. aku suka banget quote dr Ki Ageng Suryomentaram ini :
    “Di atas bumi dan di kolong langit ini tidak ada barang yang pantas dicari, dihindari, atau ditolak secara mati-matian.
    Meskipun demikian, manusia itu tentu berusaha mati-matian untuk mencari, menghindari atau menolak sesuatu, walaupun itu tidak sepantasnya dicari, ditolak, atau dihindarinya.
    Bukankah apa yang dicari atau ditolak itu tidak menyebabkan orang bahagia dan senang selamanya, atau celaka dan susah selamanya…”

    artinya, hiduplah sewajarnya.. karena yang perlu diperjuangkan hanya ridho Allah SWT.
    gitu ya mam..?

    peluktjium, always..

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s