“Iman, memampukan kita untuk terus melangkah, ketika orang lain memutuskan untuk berhenti”

Anda boleh saja setuju atau tidak setuju dengan ungkapan judul diatas.
Tapi, tunggu dulu…….
Coba Anda baca tulisan ini hingga selesai.
Mungkin Anda akan punya kesimpulan yang lebih menarik lagi dari pada judul diatas.

Ada seorang pemuda 17 tahun yang hampir berhasil bunuh diri.
Dan, yang menggagalkannya adalah ayahnya sendiri,
yang lantas mengajak anaknya berjalan jalan,
dan mengatakan sesuatu untuk menetramkan batin anaknya yang kalut.

“Hidup ini seperti novel.
Penuh ketegangan.
Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi hingga kau membuka halamannya.
Setiap hari adalah halaman yang berbeda, dan setiap hari bisa penuh dengan kejutan.
Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan ada selanjutnya sebelum kau membuka halaman itu “
Demikianlah yang dikatakan sang Ayah pada pemuda itu.

Kata kata itu menusuk hati pemuda tersebut dengan sangat mendalam.
Ia sadar dan terperangah.
Di kemudian hari……….
Ia tercatat sebagai salah satu penulis novel yang karya karyanya paling banyak dibaca orang.
Pria itu bernama Sydney Sheldon.

Pernahkah kita seperti Sydney Sheldon?
Yang merasa muak, enggan hidup, karena hidup itu terlalu tegang,
merasa jenuh dengan apa yang kita jalani karena kejutan yang kita alami dalam hidup,
kerap membuat bathin kita tak nyaman;
enggan menembus tantangan,  karena terlalu sering gagal dan kecewa,
sehingga membuat hidup yang kita jalani penuh dengan siksaan yang berat,
yang memicu kita untuk berfikir bahwa sebaiknya hidup ini diakhiri saja??

Tunggu dulu, perjalanan harus dilanjutkan.
Dan, alasan utama yang seharusnya tetap memicu kita untuk terus maju dan berjalan adalah harapan akan adanya akhir yang manis.

Memang, sebuah novel bisa berakhir sedih,
tetapi kehidupan yang dijalani dengan hati yang tabah, niscaya akan berakhir indah.
Nah, bagaimana sahabat?
Apa pendapat Anda sekarang setelah selesai membaca tulisan ini ??

Salam

Gamar diambil dari sini

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

11 responses »

  1. Salut buat sang ayah Sydney Sheldon. Tetap setia memberi semangat kepada anaknya yang nyaris bunuh diri karena batin yg kalut.

  2. karena keindahan novel itu di prosesnya, begitupun hidup bun

  3. Pulau Tidung says:

    Ya, semuanya ada akhir cerita.

  4. mus oranje says:

    betul bahkan novel akhir sedih saja.. bisa membuat orang lain yang membacanya merasa bahagia… hidup hanya perlu dijalani dengan rasa syukur..

  5. applausr says:

    betul bahkan novel akhir sedih saja.. bisa membuat orang lain yang membacanya merasa bahagia… hidup hanya perlu dijalani dengan rasa syukur..

  6. mechtadeera says:

    Wow…saya suka karya2 Sydney Sheldon, Bunda…
    Jika hidup ini diibaratkan sebuah novel…itu adalah novel unik masing-masing, dimana kita harus hati2 menjalani hari..karena apa yg tertoreh hari ini bisa jadi merupakan penentu alur cerita esok hari…

  7. kedoel says:

    live is today, just move on.

  8. Arman says:

    bener banget bunda. emang hidup ini kayak novel, jadi ya udah dijalanin aja… lembar demi lembar, hari demi hari…🙂

  9. Outbound says:

    Setuju Bun!
    Tapi kenapa musti Sydney Sheldon yang dijadikan contoh?

  10. ~Ra says:

    Ya. Ampunnn jadi SS itu cowok? Aku mikirnya dia tu cewek.. Kasus Tere Liye terulang lagi nih…😀

  11. Wong Cilik says:

    sependapat dengan Bunda, harapan, itulah yang membuat orang terus bertahan dan berjuang …
    Salam

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s