Sebuah kotak sepatu bisa menyimpan rahasia betapa rapuh hati seorang wanita

Pada sebuah kota kecil, hidup sepasang suami istri yang telah menikah selama empat puluh tahun.
Selama masa pernikahan mereka, tak ada pertengkaran berarti, kehidupan mereka selalu baik dan berkecukupan.

Tak ada satu hal yang mereka rahasiakan, tetapi sang istri meminta agar suaminya tak membuka sebuah kotak sepatu atau bertanya mengenai isi kotak tersebut.
Sang suami menyanggupi hal itu.

Suatu hari, sang istri mengalami sakit keras, dia hanya bisa berbaring di tempat tidur setiap hari.
Berbagai upaya dilakukan agar wanita itu bisa sehat kembali.
Suami dan anak-anaknya telah bersusah payah mencari dokter dan penyembuh terbaik di kota itu, tetapi upaya tersebut terasa sia-sia karena kondisi sang istri tak kunjung membaik.

Dengan tubuh yang lemah, sang wanita tua meminta pada suaminya untuk mengambil kotak sepatu.
Sang suami segera mengambil kotak sepatu itu lalu duduk di samping ranjang sang istri.

“Bukalah kotak itu, aku rasa ini adalah saat yang tepat,” ujar sang istri dengan suara yang lemah.

Sang suami lalu membuka kotak itu.
Di dalamnya, terdapat dua boneka rajut kecil dan setumpuk uang yang nilainya sangat besar.
Bingung, sang suami menanyakan apa maksud semua ini.

“Saat kita menikah dahulu, nenekku memberikan sebuah rahasia pernikahan padaku,” ujar sang wanita tua,
“Nenekku berpesan agar aku jangan marah atau berteriak pada suamiku, beliau juga berpesan apabila aku merasa marah pada suamiku, tetaplah diam dan buat sebuah boneka rajut,”

Sang suami hanya diam dan dia menangis seketika.
“Lalu uang-uang ini?” tanyanya.
Uang tersebut sangat banyak, jika dihitung nilainya lebih dari dua puluh juta.

Kemudian sang istri menjawab, “Itu adalah uang hasil penjualan boneka rajut yang pernah aku buat.”

Salam

Gambar diambil dari sini

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

27 responses »

  1. Orin says:

    hahahaha…eh maaf Bun, ending ceritanya lucu, walopun sebetulnya miris yaa, kok bisa2nya sang suami ga peka kalo seriiiiiiiing bgt bikin istrinya marah, lha uangnya bs smp 20 jt gitu je qiqiqiq

  2. mauna says:

    rasanya jleb banget. rasanya stok sabar kita (eh saya dink) jauh sekali dibandingkan istri di cerita di atas…

    tapi bun kok boneka rajutnya ada di bunda…? bunda yang beli atau kisah nyata anggota bunda ya..

  3. Necky says:

    saya pikir tadinya si suami mau tanya lagi…
    “koq cuma segini uangnya? tahu begitu lebih sering bikin kesal deh…..!” hehehehehe
    *kaburrrrr….sebelah ditimpuk sama bunda*

  4. dhea says:

    mantap..

    mean2 ya ke blog aq

  5. Alhamdulillah terkesan banyak makna. Sebuah kesabaran istri dalam membina rumah tangga sakinah dengan menyimpan rasa kekesalan menjadi hal yang bermakna dan bermanfaat dan dengan itu mampu memberikan pembelajaran yang baik bagi suami dan anak-anak, termasuk juga saya bahwa segala sesuatu yang bersifat emosional negatig kalo dikelola dengan positip akan menghasilkan banyak hal di luar dugaan.

    mohon maaf baru mampir kemari ya Bun

  6. Hueee terharu…
    Ada alternatif selain bikin boneka rajut ga Bun?😀


    ada Una, gak usah bikin boneka rajut🙂
    tapi, ngomong aja langsung sama pasangan kita🙂
    salam

  7. prih says:

    Uni Ly memposting cerita, pembaca mengurai dan menyerap makna. Trim Uni, salam

    hehehe…sekedar berbagi cerita aja kok Ry🙂
    salam

  8. LJ says:

    Nanti setiap kali marah sama suami, eMak akan mencabut gigi pasien.
    lalu uangnya ditaroh di kotak sepatu juga.


    kotak sepatunya titipin mamih aja ya ,Mak🙂
    biar uangnya bisa mamih jajanin …hahaha😀
    salam

  9. nique says:

    daleeemm….
    itu yang jadi suami luluh lantak perasaannya
    neneknya bijaksana sekali ya Bun, menasehati seperti itu,
    jika saya yang dikasi nasehat begitu, ga yakin bisa nurutin juga sih
    namanya rumah tangga pastiada selisih paham
    lah klo setiap mangkel bikin boneka terus dijual,
    mana yg jadi suami tau apa yg bikin istrinya mangkel ya
    jadi weh kejadian itu akan berlangsung terus dan terus …

    terus Ni, nasehat itu masih termasuk bijaksana tidak ya? *mbuh* hehehe bingung dewe saya Bun😀


    intinya, apapun itu masalahnya memang harus segera dikomunikasikan ya Nik,
    agar mendapatkan solusi🙂
    jangan seperti istri diatas, terlalu super duper sabar😦
    salam

  10. Agung Rangga says:

    astaga…
    speechless nih bun…😥


    jangan nangis gitu dong , Agung🙂
    salam

  11. Evi says:

    Wah, suaminya tukang bikin mangkel istri. Kalau gak, masa segitu banyak uangnya. Untungnya sang wanita punya kompensasi dengan boneka rajut yah Bun, kalau gak dituangkan ke dalam kreativitas bisa gila dianya. Namun ada satu kelemahan pada cerita ini saya lihat, personal opinion sih, dengan meredam semuanya sendiri, sang suami tidak tahu telah melakukan kesalahan. Kita hanya bertumbuh kala tahu kesalahan yang telah dilakukan dan setelahnya berusaha memperbaikinya. Dengan membuat boneka rajut, sang istri melewatkan hak suaminya tumbuh sebagai layaknya manusia biasa..Begitu Bunda pendapat saya🙂


    sepertinya pendapat kita sama Evi,
    karena mungkin si nenek tsb memberikan nasehat pd cucunya yg memang sesuai dgn zamannya si nenek🙂
    kalau utk pasangan masa kini, pastinya lebih terbuka dlm komunikasi ya🙂
    salam

  12. lozz akbar says:

    Saking super sabarnya ya Bun, ampe duit hasil penjualan boneka rajutnya menumpuk

    ah Bunda.. sekali lagi saya hanya bisa geleng-geleng membaca artikel anda.. Kok iso sih bikin artikel yang ciamik macem gini🙂


    hayyah….Uncle iki opo sih ? kok tulisan seadanya dibilang ciamik tho ?:mrgreen:
    terimakasih lho Uncle …
    salam

  13. onesetia82 says:

    duh cerita yang mengagumkan bagi sosok sang istri ini . . .🙂
    salam kenal bunda . . .

    memang mengagumkan, namun disisi lain, kenapa si istri tdk mengkomunikasikan saja kemarahannya pd suami ?
    salam

    • onesetia82 says:

      mungkin si-istri terlalu sholehah bunda sehingga lebih baik melampiaskan kemarahannya dengan membuat boneka rajut tersebut . . .
      sungguh baik hati si-istri ini . . .

  14. ceritabudi says:

    Bunda…sebuah renungan yang indah dan luar biasa, entahlah…saya merasa diri telah banyak menyumbangkan boneka rajut untuk melati, terima kasih Bunda


    semoga setelah merenung, Melati gak lagi membuat boneka rajutnya Budi🙂
    salam

  15. Lidya says:

    saya tidak bisa buat boneka rajut, jadi buat apa ya bun?

    gak usah, Lidya
    mendingan ngomong langsung aja kalau kesel atau marah,

    jadi gak perlu bikin boneka rajut segala🙂
    salam

  16. muamdisini says:

    wah..berarti itu suaminya yang kurang ajar yah bunda…
    suka bikin istrinya kesel..sampe bisa bikin boneka rajut sebanyak itu..
    heheehehe…
    kalo dibalik posisinya gimana yah?…kalo sang suami yang marah sama istri harus nulis satu puisi….:)


    hahahhaa….si istri nya juga sih, kenapa gak bilang kalau kesel ??
    hehehe…ini contoh komunikasi yg gak efektif kayaknya Muam😦
    salam

  17. mailaja says:

    terharu hati ini membaca cerita itu, enak juga kalau kalau punya nenek yang seperti itu, salam kenal


    nasehat si nenek mungkin baik, utk masa si nenek,
    utk pasangan masa kini, kurang cocok deh kayaknya😦
    kan, berarti si istri terus menerus memendam rasa marahnya ….
    salam

  18. riez says:

    Ingin rasanya punya istri kayak dalam kisah ini…thanks ceritanya bund


    waduh, Riez…jangan atuh akh
    malah si istri memendam terus kemarahannya dong, khan kasiaan😦
    salam

  19. mylitleusagi says:

    Heee heee heee hee
    Kalau tiap inon ngomel bikin boneka rajut
    Pasti duitnya banyak yaa
    Inon kalau lagi kesel mending makan aja dah
    Tapi mam,,
    Kata mama nya inon,, kalau marah jangan di pendem nanti jadi bola salju

    memang sebaiknya tiap kemarahan atau ketidak sukaan jgn dipendam,
    tapi dikomunikasikan Inon sayang🙂
    tapi, anak mamih yg ini kan suka kareh kapalo ,
    laluan nan di urang, iyo nan di awak ….😛
    salam

  20. nh18 says:

    Saya terdiam lama …
    Ini cerita perenungan yang sangat bagus …

    Saya tidak tau … sudah berapa banyak “Boneka Rajut” yang dijual oleh istri saya.
    Saya berharap … tak sepeser pun.
    Dan pula saya berharap … tak ada “seutas benang rajut” pun disana
    Saya lebih preffer … marah itu dikeluarkan … (tepatnya dikomunikasikan …)
    sehingga kami bisa tau … apa yang membuat dia sedih … apa yang membuat dia marah. Agar saya bisa introspeksi diri …
    Dan dia pun tetap ringan melangkah … (tidak menyimpan kemarahannya)

    Salam saya Bunda Ly


    idealnya memang begitulah yg kita harapkan sebagai pasangan ya Mas ,
    namun, kadang adakalanya komunikasi dua arah yg efektif ini masih saja belum merata diantara pasangan suami istri😦
    entah karena gak ada waktu utk bicara, atau hal lainnya , yg akhirnya cuma terpendam😦
    lama2 bisa jadi bom waktu utk pernikahan mereka ….hiiii…….seerreeemm….
    salam

    • Sama Om, tertegun mambacanya Bun…

      Dan buatku, tak akan ada uang sepeserpun hasilku merajut boneka, karena aku tak pernah membuatnya, kalau marah lebih suka menyampaikannya langsung sama suami, hikksss…

      memang sebaiknya kayak gituh Yunda🙂
      bunda juga berusaha menyampaikan kemarahan dgn kata2 yg santun🙂
      lagian gak bisa juga bikin boneka rajut nya … hehehe🙂
      salam

    • Ahmad Alkadri says:

      Setuju banget sama caranya Om… lebih enak seperti itu, lebih terbuka. Yang saya harapkan bukan kemarahan terhadap saya disalurkan ke hal lain… tapi diungkapkan kepada saya dengan komunikasi yang baik…😦

      tentu saja semua orang ingin seperti itu, Ahmad
      ingin ada komunikasi yg baik anatara pasangan, namun kadang dlm kenyataan hidup, komunikasi tsb ada yg sulit utk menerapkannya , karena banyak hal🙂
      bunda juga bersikap sama dgnmu dan Mas Enha , lebih baik dikomunikasikan🙂
      salam

  21. Gigih says:

    Makasih ceritanya, menarik Bunda.


    alhamdulillah, sama2, terimakasih juga Gigih🙂
    salam

  22. pa Tuo says:

    Istri yang hebat… membuang energi negatif menjadi hal yang positif..
    ***jaman sekarang, ada nggak yg spt itu?


    ada tuh Pak tuo kayaknya …
    itu lho temen angkatan SMP bareng pak tuo itu lho
    (ngelirik inon):mrgreen:
    salam

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s