Membuang barang sendiri saja sayang, apalagi meminta suami dan anak untuk membuang barangnya, semakin sulit!!

Keinginan untuk efisien dalam mengatur barang-barang di rumah, seringkali berbenturan dengan keinginan untuk mempertahankan barang-barang tersebut.
Sering kali keinginan ini bukan karena kegunaannya namun kecintaan pada barang2 tersebut.



Bahkan, mungkin bukan hanya kita, namun anggota keluarga yang lain juga. Misalnya, menurut Anda, kursi butut itu sudah layak dibuang, namun bagi suami kursi itu sangat berharga karena di sanalah ayahnya dulu sering duduk.

Jika sudah begini, acara bersih-bersih rumah bisa jadi perundingan yang alot untuk memutuskan barang mana yang akan disingkirkan.
Untuk mengatasinya, kita coba yuk untuk menerapkan cara-cara ini.

1. Membersihkan bersama-sama

Ajak anggota keluarga untuk membersihkan rumah bersama-sama.
Kamar pribadi sebaiknya dibersihkan sendiri sehingga si empunya kamar bisa memilah barang-barangnya sendiri.

2. Menyaring lagi barang yang dipilah

Hal ini berlaku untuk barang-barang Anda dan anggota keluarga yang lain.
Untuk barang-barang yang dirasa masih mengganggu, tanyakan alasan kenapa mereka (dan Anda) menyimpannya.
Jika mereka bersikukuh, jangan memaksa, mungkin barang itu memang sangat berharga baginya.

3. Tentukan syarat

Jika Anda atau anggota keluarga lain ngotot mempertahankan suatu barang, coba beri syarat.
Tentu tidak ada gunanya jika mencintai suatu barang namun hanya membiarkannya di gudang. Jadi syaratnya adalah tunjukkan kecintaan Anda pada barang itu.
Ajari juga anak-anak Anda bagaimana merawat barang yang disayanginya. Membersihkannya setiap minggu mungkin, atau menggunakannya secara teratur.

4. Tentukan waktu

Biarkan anak-anak, suami dan Anda sendiri mencoba merawat dan mencintai barang kesayangan.
Namun, beri batas waktu untuk menilai kesanggupan mereka melakukan hal itu.
Jika sampai batas waktu yang ditentukan mereka tidak bisa, bahkan tidak mau merawat barang kesayangannya, maka Anda berhak menyingkirkannya.

5. Bersikap bijak dan tegas

Walaupun tidak pernah menggunakan, kadang kala emosi seseorang tetap terlecut saat barangnya diambil.
Jadi bersikaplah bijaksana dan tegas.
Beri pengertian dan jangan menggunakan kekerasan untuk menghadapi mereka.
Jangan sampai hanya karena barang kesayangan, anak-anak Anda merasa tersakiti.

Salam

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

18 responses »

  1. yustha tt says:

    Tt jg gitu Bun, terutama barang-barang pemberian, sayang kalau mau dibuang. Ini selama kutinggal, kupak baik2 dan kutitipkan di rumah untuk disimpan. Barang2 lain seperti buku juga masih disimpan. Tapi baju-baju, sudah kupasrahkan kakak2, kalau ada yg bisa dipakai biar dipakai, kalau udah gk ada yg bisa dipakai biar disumbangkan ke siapa yg membutuhkan.


    jadi, gak sumpek ya Tt
    dengan banyaknya barang2 yg dah gak kita pake🙂
    salam

  2. Orin says:

    Ehem…dilematis memang Bun, tapi kalo ga dipakai lg ya memang sebaiknya dibuang aj ya, walopun sayang *lirik lemari baju yg semakin penuh*😀


    kalau masih bagus dan layak pakai,
    boleh juga dilungsurin Rin
    siapa tau masih manfaat utk orang lain🙂
    salam

  3. iya bunda klo lgi memilah brng mana yg harus dibuang penuh kontroversi..kata ibu ga boleh dibuang pdhal sdh layak dibuang….memang butuh kebijaksaaan


    kalau dirumah ibu juga kayak gitu Ajeng ,
    pasti deh banyak yg gak boleh disingkirkan dgn banyak banget alasannya😀
    salam

  4. bener2 deh kalo soal ini sya nyerah…hiks…kalo bebenah kebanyakan mikirnya bun…puyeng jadinya malah ga selesai2…barang tetep aja penuh😦

    hahaha…pasti gak jadi deh bebenahnya tuh😀
    salam

  5. untung di rumah ga pernah ngumpulin barang2 bun, kalau pakean, mainan2 biasanya sih langsung dilungsurin sama sodara2.
    Kalaupun ada yang memiliki kenangan tersendiri, paling ya dipak ke kardus, simpen di lemari atau di gudang aja..😀


    alhamdulillah, kadang lungsuran yg memang masih baik dan layak, pasti akan dgn senang hati diterima ya Ruri 🙂
    salam

  6. Agung Rangga says:

    duh, saatnya bersih-bersih gudang rumah nih~😉


    hayo mulai dipilih yg gak berguna , buang saja atau berikan pd orang lain yg mungkin membutuhkan🙂
    salam

  7. Masbro says:

    Menyingkirkan barang barang agar terasa lebih efisien itu memang terlihat mudah, tapi sebenarnya nggak mudah. Adaaaa saja yang membuat kita menimbang nimbang untuk tidak segera mengemas dan menyingkirkannya. Apalagi kalo gudang sudah ful.

    Benar kata Mbak Imelda. Sulit tapi HARUS. Kita hanya tinggal menyimpan kenangannya dalam bentuk yang lain. Bersikap tegas dan bijak itu lebih terasa mudah bila dilakukan (dibersihkan) secara bersama sama.


    bila dilakukan bersama2, memang jd lebih mudah, krn ada pendapat lain yg bisa jd masukan,
    utk memilih sesuai skala prioritas ya Aim🙂
    salam

  8. Bunda…kenapa harus dibuang? kan sayang bunda. Mending dijual ke pengepul barang bekas, kan lebih bermanfaat meskipun uang dari penjualan itu kecil tapi kita juga bisa membantu orang lain dengan barang-barang bekas itu. Tapi kalo dalam pandangan saya, menumpuknya barang-barang dirumah adalah efek dari konsumerisme hidup yang kadang tak tertahankan. Bner gak bunda….klo boleh ditambahkan item di atas, mungkin yang terakhir kurangi hasrat konsumtif di dalam diri….he he hanya usul kok bunda


    setuju ,Azis .
    sepertinya ‘i throw, someone will pick it up’ berlaku disini ya …
    diberikan pd orang lain yg mungkin membutuhkan,
    sama saja kalau kita bersih2 , memilih dan memilah ….
    dan, sepertinya memang salah satu akibat dr hasrat konsumerisme yg tinggi juga tuh🙂
    salam

  9. Ahmad Alkadri says:

    Bunda… saya jadi ingat dulu beberapa kali pindah tempat tinggal, setiap kali pindah barang-barang saya yang lama – mainan, sepeda roda tiga, dan lain-lain – banyak sekali yang ditinggalkan karena tidak cukup masuk ke dalam truk pindahan. Ah… padahal dari dulu sampai sekarang saya termasuk yang tidak suka membuang barang-barang sendiri. Rasanya setiap barang mengandung kenangan dan memori yang unik tersendiri, meskipun barang tersebut hanyalah lembaran-lembaran Slide materi ujian harian dari zaman SMA dulu… :’)


    kalau penuh kenangan memang rasanya semua barang yg kita punya sayang utk dibuang ya Akhmad🙂
    tapi, kudu sekali sekali dipilih juga , agar gak menuh2in ….
    salam

  10. mamah Aline says:

    saya termasuk orang yang gak suka nyimpan barang lama bun, apalagi sering berpindah sudah dipastikan saat packing ada barang yang gak lolos sensor mesti dikasihin orang saja. tapi khusus barang fesyen, saya pernah nyesel udah ngebuang buru-buru ternyata masih up to date beberapa lama kemudian🙂


    iya bener Mah, jadi kudu bisa memilih dan memilah juga ya
    daripada nyesel akhir nya ….😦
    salam

  11. nh18 says:

    Bunda Ly …
    Ini gue banggetttt !!!
    Banyak barang yang tidak saya buang … karena mengandung makna tersendiri
    Yang celakanya … bagi kita bermakna bagi orang lain tidak … hahahaha

    Ada nilai-nilai kenangan tertentu yang sayang untuk di buang …

    Akhirnya … jadilah barang-barang itu … (saya menyebutnya) bleketekan …
    Digunakan tidak … hanya menuh-menuhin tempat saja … dan kadang kita sendiri juga tidak membersihkannya …

    Hehehe

    Salam saya Bunda Ly

    hahahaa…menyimpang kenangan dlm barang2 , memang sayang utk melepaskannya ya Mas🙂
    ada solusi dr Mbak EM dan Nik, mungkin yg bisa diikuti
    supaya gak bleketekan lagi….heheehe…🙂
    salam

  12. nique says:

    jadi inget waktu bongkar2 barang di sini beberapa bulan lalu Bun
    itu barang dari priok ditenteng ke bekasi pindah juga ditenteng lagi balik ke sini juga ditenteng lagi … dan kemarin saya ikhlasin semua hihihihi … hla baju2 jaman langsing itu lho, mo nunggu kapan saya bakal sekecil itu ixixixi …

    sekarang mencoba menerapkan, masuk 1 harus keluar 1, moga2 bisa konsisten hehehe


    nah, ini satu lagi solusi dr Nik🙂
    asal disiplin, masuk 1 keluar 1 , bisa jadi kita gak menumpuk barang2 lagi ya Nik🙂
    terimakasih Nik………..
    salam

  13. Sofyan says:

    Kadang sangat sulit Bunda untuk membuang barang² yang sudah lama..saya adalah salah satu penyimpan barang bekas Bunda, terkadang masih eman mau di buang hehehe,,,tapi ntar di coba deh tips nya


    hahahha….memang gak mudah,
    apalagi kalau barang2 tsb banyak kenangan dibaliknya ya Sofyan🙂
    salam

  14. aryakmdn says:

    kalau sy lebih sering berhubungan dengan kertas…segala macam kertas…..yg berisi catatan penting…gak penting sampai setumpuk buku, majalah dan bundelnya….jadi bingung…mau buang yang mana….^__^


    gimana kalau dipilih dan dipilah,
    bisa dijadikan klipping,Arya
    jadi yg gak perlu bisa disingkirkan🙂
    salam

  15. ahsanfile says:

    Sayang dibuang …
    ha ha ha … solusi yang pernah aku buat adalah memasukan mereka ke kardus bekas kemudian aku simpan digudang…


    jadi, lumayan rapih ya Ahan🙂
    kenapa kok gak dihibahkan saja ?
    salam

  16. Imelda says:

    Ini memang sulit sekali, tapi HARUS, apalagi rumahku di sini kecil sekali.
    Dulu saya suka menyimpan barang-barang yang sarat kenangan, tapi sedikit sedikit, saya foto dan buang barangnya. Jadi ada kenangan bentuk lain. Kadang aku tuliskan kenanganku itu di blog, sehingga bisa dibaca kalau kangen.


    wah, ini ada solusinya dari Mbak EM,
    praktis dan berguna🙂
    jadi, difoto aja ya Mbak EM, lain kali bisa dipandang2i lagi🙂
    terimakasih Mbak EM ….
    salam

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s