Seringkali sebagai orang tua, kita melupakan hal-hal baik yang diajarkan kepada anak-anak, dan melakukan hal yang salah, entah sengaja ataupun tidak…

Di suatu kota kecil, hiduplah seorang pria bersama istri, ayah, dan anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun. Anaknya adalah sosok yang dibanggakan dan dicintainya, sehingga ia tak henti mengajarkan hal-hal baik agar kelak anaknya dapat tumbuh menjadi orang yang baik dan berguna.

Suatu hari, mereka makan malam bersama. Duduk di sebuah meja dengan aneka hidangan lezat yang dimasak khusus oleh sang istri. Ayahnya yang sudah tua, tak begitu baik penglihatannya. Tangannya bergetar keras saat memegang suatu benda.

Bahkan berjalan sejauh 1 meter, ia harus meraba-raba dan terseok-seok. Malam itu adalah malam istimewa bagi sang suami, sehingga ia mengharapkan makan malam yang istimewa.

Celakanya karena usianya yang lanjut, kakek sering melakukan hal-hal yang dianggap menyusahkan keluarga. Saat makan ia selalu bersuara, ia menumpahkan makanannya di meja, sendok dan garpu seringkali dijatuhkan, dan akhirnya semua yang sedang asyik menikmati lauk harus melayaninya terlebih dahulu.

Sang anak yang sudah geram kemudian menyediakan sebuah meja kecil di sudut ruangan. “Besok, kakek akan makan di meja itu,” katanya kepada anak laki-lakinya.

Dan benar, esok hari sang kakek tak boleh makan malam semeja lagi.
Ia duduk sendiri di sudut ruangan dengan kepala tertunduk sedih.
Saking sedihnya, tak sengaja ia menumpahkan makanannya, mangkuknya jatuh ke lantai dengan suara yang amat keras.
Sang anak semakin berang, diambilnya sebuah mangkuk kayu dan disodorkan kepada kakek.

Dalam kegelapan di sudut ruangan, kakek menangis tiada henti. Menikmati makan malam yang hambar dan dingin, tanpa kehangatan kasih kebersamaan dan keluarga.
Cucunya yang berusia 5 tahun memandang dari kejauhan sambil terdiam.

Suatu hari, ia mengambil sebongkah kayu.
Dimainkannya kayu itu di lantai ambil digosok-gosok.
“Apa yang sedang kamu buat anakku?” tanya ayah,
“aku sedang membuat mangkuk dan sendok kayu untuk ayah dan ibu. Agar kelak saat aku dewasa, ayah dan ibu bisa menggunakannya untuk makan malam,” jawabnya polos.

Sang ayah terdiam, air mata meleleh dari pipinya.
Dibimbingnya kakek menuju meja makan tempat mereka bercengkerama dulu.
Apabila kakek kesulitan dengan makanannya, maka sang istri yang akan menyuapi sang kakek, menyiapkan segala keperluan agar sang kakek tidak kewalahan.

Ingatlah, bahwa keluarga adalah guru yang paling dekat dengan anak. Segala hal kecil apapun adalah pelajaran penting baginya, termasuk sikap dan tingkah laku kita.

Semua kebiasaan dan sikap kita adalah hal yang akan ditirunya kelak, jadi apakah Anda akan tetap berteriak keras, suka memukul dan mengajarkan anak berbohong demi masa depannya kelak?

Salam

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

19 responses »

  1. kakaakin says:

    Astagfirullah…
    Saya perlu mengintrospeksi sikap saya ke ortu… Siapa tau beliau terluka tanpa saya sengaja…😦

    ya Kak, mungkin kita gak sengaja , menyakiti perasaan Beliau ya …😦
    salam

  2. maminx says:

    semoga saya gak begitu ma ayah sendiri ataupun ayah orang lain, naudzubillah, durhaka banget itu mah namanya. makasih bunda cerita ini jadi mengingatkan juga🙂

    iya Mamin, kadang kalau ortu dah uzur dan kembali seperti anak2 lagih,
    sebagai anak, kita harus extra sabar menghadapinya .
    ikut mengaminkan doamu ,Mamin
    salam

  3. Lyliana Thia says:

    Kisah yg sangat menyentuh sekali Bunda… Jd ingin nangis jadinya…
    Kadang lupa bersikap yg paling baik thd ortu..
    Makasih udah diingatkan lewat kisah ini, Bun…

    bunda sekalian mengingatkan diri sendiri juga Thia🙂
    salam

  4. Sofyan says:

    ceritanya terharu banget Bun,,setuju sekali “keluarga adalah guru yang paling dekat dengan anak”,,semoga kita bisa mengontrol diri saat mau marah atau bersikap didepan anak²…

    dengan sikap kita telah memberi contoh pd mereka Sofyan
    jadi, usahakan selalu menunjukkan sikap dan perilaku yg baik saja pd mereka
    salam

  5. diananeeh says:

    Dalem banget Bun,,,,,smoga saya bisa memberikan contoh yang baik untuk anak2 saya kelak, aamiin ^_^


    ikut mengaminkan doamu , Diana sayang🙂
    salam

  6. agussupria says:

    Cerita yang menarik dan syarat maknanya

    alhamdulilah, semoga bermanfaat ya Gus🙂
    salam

  7. tunsa says:

    ya Allah..smoga saya bisa menghindari hal demikian kelak. bisa membarikan contoh baik untuk anak..
    bunda dapet aja bikin tulisan kek gini.salam

    ikut mengaminkan doamu, Ri
    hayyah….ini bukan dapet kok Ri, begitu lewat, tangkep………….hahahha😛
    salam

  8. nia/mama ina says:

    sedih baca kisah diatas, trnyata masih banyak yach anak yg memperlakukan orangtuanya seperti itu…contoh nyata tetangga sebelah rumahku….duhh miris ngeliatnya….

    aku jadi inget, waktu masih kecil ada orang yang bilang begini : “Kalo orangtua kaya, anak jadi raja….kalo anak kaya, orangtua jadi babu….” naudzubillahimindzalik…jangan smpe ya bun…..mudah2an aku pribadi bisa mendidik anak2ku kelak menjadi anak yg menghormati orang yg lebih tua…

    nauzubillah…….semoga kita semua jangan kayak gituh ya Mam .
    dan, dari sekarang kita pupuk anak2 kita, agar tetap sayang , sabar serta menghormati kita
    dengan memberikan contoh langsung pd mereka
    salam

  9. pembelajaran buat saya khususnya, bahwa saat masih kecil, sebagai anak kita selalu rewel dan dengan kasih sayangnya mereka orang tua tetep mengerti dan mencurahkan segala kasih syangnya. Dan nanti pada saatnya pasti akan berganti, ketika orang tua sudah menginjak usia senja, mungkin sifat mereka akan seperti anak-anak,, nah di situlah seharusnya kita sebagai anak harus bisa mengerti.
    satu lagi, memang benar sekali ya bun, pendidikan utama adalah dari keluarga, jadi harus benar-benar berhati-hati dalam bertindak dalam keluarga, apalagi sudah ada anak kecil di dalamnya.

    salaam

    banyak yg ditiru utk hal2 baik, jika saja di keluarga menyadari bahwa anak2 adalah peniru yg ulung tanpa filter🙂
    semoga ketika ortu kita tua renta nanti, kita hrs bisa dan mau utk sabar , dan tetap mencurahkan kasih sayang pd mereka dgn perhatian dan kesabaran ya Ruri🙂
    salam

  10. ~Amela~ says:

    Wah, suka banget Bund..
    Emang bener sih,, di keluarga lah kita pertama kali belajar sesuatu…


    sesuatu yang baik atau buruk, pertama kali datang dr tempat terdekat , yaitu keluarga ya Mel🙂
    salam

  11. bayu says:

    waduh kok sedih ceritanya nya yah. uwww iya jangan menyia nyiakan orang tua.

    si anak 5 tahun aja dengan polos nya ngerti cara hormatin orang tua. hmmm miris

    semoga kita semua termasuk anak2 yg sabar ketika menghadapi ortu kita di masa tua mereka ya Bayu🙂
    salam

  12. ejawantahblog says:

    Ass…..

    Seorang anak akan melihat apa yang dilakukan oleh orang tuanya atau orang yang ditukannya dari pada setiap ucapan orang tuanya.

    Pembelajaran untuk kita semuanya Bun, semoga bermanfaat untuk kita semua. Sukses selalu untuk Bund sekeluarga.

    Salam

    Ejawantah’s Blog

    walaikumsalam.wr.wb.
    benar Indra ,ini pembelajaran utk semua ortu🙂
    termasuk bunda juga🙂
    selalu sehat dan sukses juga utk Indra ……….
    salam

  13. angga SDP says:

    wuahhh mantep bun infony

    semoga ada manfaatnya ya Angga🙂
    salam

  14. riez says:

    Mungkin makan malam bersama adalah hal kecil tapi disitu ada sesuatu yang bisa membawa kerukunan…ada istilah makan gak makan asal kumpul

    Salam PLUR

    bener Riez, makan bersama itu membuat keakraban dan kemesraan antar anggota keluarga makin terasa🙂
    karena bisa berbagi cerita juga
    salam

  15. alamendah says:

    Yup, sebagai orang tua kita musti hati2 dalam bertindak dan perilaku. Kepolosan anak akan melihat apa yang kita perbuatan sebagai pelajaran dan panutan

    karena mereka hanya baru mengerti meniru saja ya Mas Alam,
    mereka blm mampu utk memfilteri diri🙂
    salam

  16. Danu Akbar says:

    “Ingatlah, bahwa keluarga adalah guru yang paling dekat dengan anak. Segala hal kecil apapun adalah pelajaran penting baginya, termasuk sikap dan tingkah laku kita.”

    Apa yang kita lakukan, adalah apa yang akan anak kita lakukan. Bener gak bunda?


    bener banget Danu,
    jadi kalau kita cuek, anak kita juga pastinya gak kan jadi anak yg peduli pd sekitar
    salam

  17. Dhenok says:

    bener banget bunda, sekolah pertama bagi anak adalah keluarga.. kisah yang menginspirasi, kalo gk salah ini udah yaa bund versi iklannya..

    oh ya? malah bunda gak tau kalau ada versi iklnanya Dhe …hehehe🙂
    salam

  18. aryakmdn says:

    menjadi orangtua tidak semudah kata nafsu birahi, ketika berbuah anak dan lahir, maka bertambah tanggung jawab.
    menjadi orangtua tidak terlepas dari runtutan peristiwa saat pasangan pria dan wanita menjalin asmara…menikah dan berkeluarga.
    sekarang banyak orangtua yang gagap dalam menghadapi anak-anaknya, mengasuh anak manusia disamakan dengan anak-anak ayam…dilepaskan begitu saja.
    tidak bicara agama, karena sebenarnya dari adab sendiri, sudah ada norma dan aturan.


    anak adalah generasi penerus kita,
    yang seharusnya lebih baik dari kita ya Arya
    agaknya memberikan contoh adalah salah satu cara yg paling jitu utk mendidik anak2 , krn mereka senang sekali meniru
    salam

  19. Mood says:

    Ironi kisah, yang setiap kita akan ‘mungkin’ juga mengalaminya.
    Memang sebaiknya kita bisa bersikap, berbicara dan mencontohkan yang baik untuk setiap anak kita.

    Salam.. .


    karena anak adalah peniru ulung ya Mood,
    mereka mengambil contoh dr orang2 terdekat, yaitu , kita sebagai ortu
    salam

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s