Mengunjungi sebuah cafe cappuccino, Anda tentu menikmati sajian keindahan dan lezatnya latte dengan gambar-gambar unik bukan? Dari mana sebenarnya ide ini muncul, mari kita simak ceritanya.

Kapankah pertama kali seni latte art mulai diketahui? Hal ini masih merupakan tanda tanya, karena tidak seorangpun ada yang tahu.

Bahkan ada sejarawan menunjukkan adanya bukti sejarah bahwa seni latte sudah ada sejak 1000SM. Kala itu, Raja pada relief Asiria memiliki hobi di kala waktu luangnya melakukan kegiatan seni tersebut.

Bahkan, di Mesir ada Hieroglif yang mencatat bahwa adanya sejarah besar tentang latte art di Mesir. Akan tetapi, selama berabad-abad sejarah ini telah dikuburkan dalam-dalam oleh masyarakat Mesir, karena seni ini telah dibinasakan oleh barbar anti-latte.

Era Meidival

Saat itu adalah era di mana cappuccino mulai dikenalkan oleh bangsa Romawi dan Yunani. Para biarawan di berbagai gereja mengajarkan agama dan menerjemahkannya melalui tulisan-tulisan. Seringkali mereka tertidur dalam melakukan ibadah di gerejanya.

Kemudian mereka mencari cara bagaimana agar para biarawan dapat menyelesaikan pekerjaannya lebih efektif, dan ditemukanlah kopi dan susu. Walaupun pada saat itu latte art belum dikenal, namun para biarawan dan masyarakat sekitarnya sudah mengenal dan menikmati manfaat dari minuman kopi dan susu.

Era Renaissance

Era Renaissance adalah era di mana munculnya karya seni. Pada era ini berbagai karya seni yang luar biasa bermunculan dari seluruh dunia, salah satunya Leonardo Da Vinci dari Italy.

Di era ini, latte art diperkenalkan dan dipopulerkan oleh barista muda. Namun pada era Renaissance, latte art dikalahkan oleh karya seni lainnya yang diperkenalkan oleh seniman tua dan lebih senior di Italy.

Era Modern

Pada era ini, latte art tidak hanya sebagai unsur kecantikan pada secangkir kopi, tapi juga sebagai sebuah fungsi untuk mendapatkan secangkir kopi yang lebih baik.

Foam susu yang dihasilkan dari latte art sangat halus, sehingga saat minuman kopi diminum dipadukan dengan foam susu akan terasa lebih soft dan membaur dengan kopi.

Evolusi dari istilah ini merupakan hal yang relatif baru. Beberapa cafe menciptakan desain-desain unik bentuk buih susu latte.

Tapi ingatlah selalu, jika memesan secangkir latte di sebuah cafe Italy tidak hanya secangkir espresso yang baik. Italy tetap lebih mengerti bagaimana mengolah espresso dan foam susu dan latte art sehingga menjadikan komposisi setiap cangkir cup cappuccino sempurna.

Di sisi lain dunia (sebagai contoh, Australia) latte biasanya dihidangkan dalam gelas, yang disajikan di atas alas piring kecil disertai sebuah serbet yang digunakan untuk memegang gelas itu (yang seringkali panas).

Sebagian barista akan memanaskan susu pada suhu 65-70 derajat celcius, di atas temperatur tersebut susu akan berubah rasanya.

Hidangan-hidangan ini pada umumnya dibuat dengan menggunakan 30 ml espresso shot dan dengan topping buih maupun susu.

Di Selandia Baru, latte bahkan biasa dihidangkan dalam sebuah mangkuk di banyak kedai kopi.

Susu dalam latte dihidangkan berbuih dan kadang-kadang bentuknya dihias. Latte dapat dilayani secara wet atau dry, wet berarti tidak berbuih sedangkan dry berarti lebih banyak buih.

Salam

Gambar diambil dari sini

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

31 responses »

Comment navigation

  1. sena says:

    wah…jadi pengen nih…heheh

Comment navigation

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s