Sangat tidak mudah mengajarkan hal-hal dasar pada anak-anak, terutama pada saat itu kita sendiri sebagai orang tua kesulitan mengendalikan emosi diri sendiri. Namun, apakah kita akan membiarkan anak-anak selalu bertengkar dan berkelahi dengan teman-temannya?

Tentu saja tidak ……………. Jika kecilnya saja sudah suka berantem, bagaimana saat ia dewasa nanti? Ah, membayangkan semua hal itu tentunya menjadi beban tersendiri bagi pikiran kita.
Inginnya sih, ketika dewasa nanti anak-anak tumbuh normal, banyak sahabat dan tidak suka berkelahi.
Kehidupan cinta damai seperti itulah yang sebenarnya didambakan setiap orang tua dari dalam hati.

Apabila anak-anak terlanjur suka berantem, bagaimana mengatasinya?

Tenang ………………… masih bisa dicegah dan diatasi kok🙂

Jadilah panutan

Sikap keras kepala, membangkang, suka menentang dan berteriak keras sebenarnya tidak muncul dari anak itu sendiri.
Semuanya adalah merupakan pengaruh dari lingkungan di luar diri, termasuk bagaimana ia mengamati Anda, dan teman-temannya.
Jika di rumah kita kebiasaan keras kepala, membangkang, berteriak keras dan menentang sudah menjadi budaya, akan sulit untuk anak-anak tidak meniru hal tersebut.
Di sinilah peran orang tua dan keluarga, dengan memberikan panutan yang baik, maka sikap anak-anak akan mudah dibentuk.
Kontrol suara saat berbicara

Emosi, adalah alasan klise para orang tua saat mereka lepas kendali.
Dan sebenarnya ini bukanlah alasan yang tepat.
Ketika kita menginginkan anak-anak untuk tidak berteriak kasar saat mereka merajuk.
Apapun yang membuat kita marah, pastikan kita selalu mengontrol emosi. Jika emosi tersebut terasa sudah di ujung kepala, ambil segelas air dan duduk diam hingga emosi reda.

Di sinilah kita kemudian bisa kembali mengajak anak-anak berbicara, mengingatkan dan membimbing mereka apabila mereka melakukan kesalahan.

Menunjukkan sikap sopan

Jika orang tuanya saja sudah tidak bersikap sopan, bagaimana anak-anaknya bisa sopan?

Cara yang paling tepat dan efektif untuk mengajarkan kesopanan pada anak-anak adalah melalui cerita dan praktek.

Ketika telinga dan mata mereka sinkron menangkap contoh sikap, maka secara alami mereka akan mengaplikasikan pada kehidupan mereka sendiri.

Kata-kata tolong, maaf, terima kasih tentunya tidak akan pelit keluar dari anak yang tahu sopan santun.

Reward

Memberikan reward pada mereka bukan untuk membuat mereka manja.
Reward yang benar adalah ketika mereka melakukan sesuatu hal yang benar dengan inisiatif mereka sendiri.
Dan itupun juga tidak harus sesuatu yang harganya mahal. Sebuah kecupan dan pelukan adalah reward sederhana yang selalu dirindukan dan dibutuhkan oleh anak-anak.
Dengan demikian, mereka akan lebih memiliki inisiatif untuk melakukan hal-hal benar.

Anak-anak adalah seperti bongkahan-bongkahan tanah liat yang siap dibentuk.
Jika kita membentuknya dengan baik dan benar, maka kelak ia akan menjadi tembikar-tembikar kuat.

Salam

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

13 responses »

  1. […] ini terinspirasi dari Bunda Lily dalam tulisan bertajuk ‘Mencegah Hobby Berantem Anak-anak’ yang intinya, kita sebagai ortu harus bisa menjadi panutan dalam mengendalikan emosi dan bersikap […]

  2. Klo udah gede masih berantem,gmana tu bu?

  3. wah pelajaran berharga…akan saya terapkan untuk anak2..mkc ya bun…

  4. Bun…
    hiks…sekarang, keseringan main game dan nonton TV juga bs membentuk perilaku mereka (prihatin banget)

  5. wah2, pengalam pribadi nih bun, mantab tipsnya, langsung dari ahlinya. hehe.

    hahahha…..manatap sih gak juga Hanif🙂
    cuma sekedar berbagi saja🙂
    salam

  6. Kakaakin says:

    Hmm… Jadi pesimis deh, jika semua penghuni rumah mirip tarzan😦

    akh, Kakaakin ada ada aja🙂
    salam

  7. Orin says:

    Sepakat Bund, seringkali Reward ini yang terlupakan, dinasehati-diomeli-dimarahi, tapi jarang dipuji😦

    kita dulu ikut merasakanna juga ya Rin😦
    salam

  8. rumah dijual says:

    harusnya sebagai orang tua harus memberikan contoh yang baik agar anak tida bandel,,,

    bener banget, krn mereka meniru dr kita dan apa yg dilihatnya ya🙂
    salam

  9. trilaksono says:

    saya masih pemula, anak saya baru umur 11bulan.. tapi emg, dasar2 pendidikan yg terdekat adalah mencontoh dari kebiasaan dan tingkah laku orang tuanya🙂 anak saya ketika mendengar adzan, saya contohin tangan menengadah spt posisi berdoa, bsk2nya dia setiap denger adzan selalu begitu sambil ngoceh berusaha meniru suara adzan😀

    semoga kita semua mampu mendidik anak2, sehingga tdk suka berantem ya Bun..saran2 yg ada dlm tulisan ini, insya ALLAH akan saya cb terapkan:).. terima kasih bundaaa🙂

    Alhamdulillah, Tri, memang anak2 adalah peniru yg sempurna ,
    jadi, kita harus hati2 didepan mereka ya,
    mereka cepat sekali menirukan apa yg dilihatnya🙂
    salam

  10. giewahyudi says:

    Tapi memang anak cowok biasanya suka berantem kalau ketemu anak lainnya, apalagi anak yang lebih kecil darinya..

    emangnya Gie dulu gitu yaaa ?😛
    salam

  11. Necky says:

    bunda….sekedar sharing, teman saya yang punya anak laki2 3 orang akhirnya memasukkan mereka ke beladiri. Ternyata setelah mereka masuk beladiri keadaan di rumah jauh lebih kondusif karena di beladiri itu diajarkan juga filosofi tentang membela yang lemah dan tidak boleh sombong (baca petantang petenteng…)…mungkin ini bisa melengkapinya.

  12. Benar Bun, anak-anak lebih membutuhkan penagajaran dari seorng yang menjadi panutan dan kita sebagai orang tua harus menajdi panutan untuk anak-anak kita.

    Sukse selalu untuk bunda skeluarga.

    Salam

    Ejawantah’s Blog

  13. yayats38 says:

    “Anak-anak adalah seperti bongkahan-bongkahan tanah liat yang siap dibentuk. Jika kita membentuknya dengan baik dan benar, maka kelak ia akan menjadi tembikar-tembikar kuat.”
    Perumpamaan yang sangan mengena Bun🙂
    Terima kasih sekali .. saya punya anak dua mash kecil2 .. semoga bisa membentuknya menjadi manusia hebat. Mohon doanya ya Bun. Trims🙂

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s