Membuka diri terhadap orang lain (self disclosure) itu ibarat mata uang, memiliki dua sisi.
Di satu sisi berarti memasuki hubungan yang lebih matang.
Di sisi lain, terdapat risiko dicemooh dan dikhianati.

Bagaimanapun, self disclosure merupakan isyarat berkembangnya hubungan yang sehat yang perlu dikelola.
Kadang-kadang kita dibuat kagum oleh seseorang yang dengan sangat terbuka dapat menceritakan apa saja yang ia pikirkan, rasakan, dan inginkan.

Meskipun banyak kesulitan atau kekurangan, hidup seolah dirasa sebagai hal yang ringan, dan dilakoni tanpa beban.
Kita dapat menjadi lebih nyaman berinteraksi dengan pribadi seperti itu.
Karena ia terbuka, kita pun dapat menjadi lebih terbuka, dan akhirnya relasi berlangsung lebih akrab dan saling percaya.

Namun, pada kesempatan lain kadang terjadi sebaliknya.

Kita justru merasa muak dengan seseorang yang terlalu membuka diri sampai ke hal-hal yang sangat pribadi, yang menurut kita tidak pantas untuk diceritakan kepada orang banyak.
Di samping kondisi positif dan negatif seperti digambarkan di atas, ada kondisi lain yang dapat kita jadikan referensi untuk menentukan kapan dan bagaimana sebaiknya kita membuka diri.

Keterbukaan diri diperlukan, terutama dalam hubungan-hubungan jangka panjang (persahabatan, perkawinan, pekerjaan, dan sebagainya), dan bahwa perlu ada aturan main tertentu agar keterbukaan diri itu bersifat konstruktif.

De Janasz, Dowd, dan Schneider (2002) dalam bukunya Interpersonal Skills in Organizations memberikan informasi mengenai bagaimana membuka diri, manfaat, serta hal-hal yang menghambat.

Hal yang Diungkapkan
Ada rambu-rambu dalam pengungkapan diri agar hubungan menjadi efektif:

* Lebih mengungkapkan perasaan daripada fakta.

Bila kita mengungkapkan perasaan terhadap orang lain, berarti kita mengizinkan orang lain mengenali siapa kita sesungguhnya.
Misalnya, informasi bagaimana kita mengembangkan hubungan dengan saudara-saudari kita membuat orang lain memahami kita, daripada sekadar memberikan informasi bahwa kita memiliki saudara.

* Semakin diperluas dan diperdalam.

Mungkin kita masih mengalami perasaan tidak nyaman berbagi pengalaman dengan seseorang yang seharusnya dekat dengan kita.
Untuk itu perlu dilakukan pengembangan hubungan ke arah yang lebih dalam (lebih mengungkapkan perasaan terhadap isu tertentu) dan diperluas (dengan mendiskusikan berbagai isu, seperti pekerjaan, keluarga, pengalaman religius, dan sebagainya).

* Fokus pada masa kini, bukan masa lampau.

Bila berbagi pengalaman soal masa lalu menjelaskan mengapa dulu kita melakukan tindakan tertentu adalah bersifat katarsis (melepaskan ketegangan), tetapi dapat meninggalkan perasaan bahwa kita lemah.
Hal ini terjadi terutama bila keterbukaan tidak berlangsung timbal balik. Jadi, lebih baik kita fokus pada situasi sekarang.

* Timbal balik.

Kita harus selalu mencocokkan tingkat keterbukaan kita dengan tingkat keterbukaan orang yang kita jumpai.
Hati-hati, jangan terlalu membuka diri secara dini, sebelum melewati masa-masa pengembangan hubungan yang familier dan saling percaya.
Di sisi lain, bila diperlukan, tidak perlu menunggu orang membuka diri. Jangan takut untuk memulai langkah penting membangun hubungan.
Berikan contoh, dan orang lain akan menyesuaikan diri. Bila orang tidak merespon secara seimbang, hentikan langkah tersebut.

Banyak Manfaat

Keterbukaan diri memiliki manfaat bagi masing-masing individu maupun bagi hubungan antara kedua pihak.
Dengan membuka diri dan membalas keterbukaan diri orang lain, kita dapat meningkatkan komunikasi dan hubungan dengan orang lain.

Secara rinci manfaatnya adalah:

* Meringankan.
* Membantu validasi (menguji ketepatan) persepsi terhadap realita.
* Mengurangi tegangan dan stres.
* Alur komunikasi yang lebih jelas.
* Mempererat hubungan.

Lebih dari itu, hasil riset menemukan bahwa bila antar rekan kerja semakin menyukai kerja sama, mereka lebih produktif dalam mengerjakan proyek atau dalam situasi tim.


Salam

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

31 responses »

  1. herna says:

    bun….saya tertarik dengan blog ni….jadinya aq teringat. pernah terbuka ama seseorang masalah pribadi aq eh…tau-taunya malah jadi bahan omongan orang .so klau gitu cara kita terbuka itu gimana yach…..

  2. ysalma says:

    membuka diri lihat situasi dulu kali ya Bund,,
    kalo ditempat kerja, pastinya profesional aja,, semua enak semua nyaman..

  3. IchigoDewis says:

    aku pernah mencoba mengeluarkan apa yang ada dalam hati dan pikiran…tidak beruntungnya aku mendapatkan orang yang tidak amanah.hiks…dia mengatakannya pada orang lain. sedihnya…aku jadi takut untuk melibatkan hatiku lagi kepada orang lain. menaruh kepercayaan itu tidak mudah…
    sekarang dah mulai sedikit2 cerita ma temen kamarku sih…tapi akibatnya malah aku membenarkan tindakanku yang salah..hiks…soalnya temenku malah mendukung tindakanku..

  4. Kakaakin says:

    Hehe… kadang tanpa sengaja kita bercerita lebih banyak hal pribadi ke seseorang… Mungkin karena kita merasa cerita kita aman dan nyaman terhadap orang itu ya, bunda…🙂

  5. dheeasy says:

    terbuka atau tertutup?? Kalo sudah ga sanggup menahan gundah saya bisa sangat terbuka, tapi bila bisa ditangani sendiri saya memilih untuk tak membukanya…

    *semangat!!!

  6. tutinonka says:

    Betul Bunda, keterbukaan yang sewajarnya adalah yang paling baik. Jika kita berhubungan dengan seseorang, minimal kita pasti ingin tahu siapa nama aslinya, dimana dia tinggal, apa pekerjaannya. Saya pikir itu data-data pribadi yang wajar saja diketahui orang.

    Tidak nyaman berhubungan dengan seseorang yang bersembunyi di balik tabir, sama tidak nyamannya berhubungan dengan orang yang menceritakan hal-hal paling pribadi dari dirinya …

    salam,

  7. Asop says:

    Wow.. blog yang ini masih aktif….😀
    Artinya Bunda punya tiga blog ya.😛

  8. Membuka diri bisa berwujud menuangkan pikiran, ide, perasaan, cerita, dll dalam bentu blog. Tapi pasti akan lebih afdol dalam bentuk vlog, karena bisa membuat pembaca merasa mengenal individu secara pribadi. Mungkin itu keterbukaan yang paling asyik di era sekarang.

    *nyuwun sewu Bunda*

  9. didta7 says:

    ew jangan dibuka kasian

  10. Lidya says:

    kalau saya melihat situasi bun juga melihat temannya juga terkadang kita sudah terbuka eh malah diumbar kesana-kemari

  11. Benar bun, keterbukaan berarti jujur kan? Mangga bund kalawo mau lihat tipi saya, jujur dah tak pasang lagi😆

  12. yayats38 says:

    saya setuju Bun, ditambah komentar dari om trainer. Terbuka yang sewajarnya memiliki kelebihan dan kita mudah diterima untuk berkawan.
    Trims nasehatnya.
    Maaf neh baru hadir kembali🙂
    Salam hangat selalu untuk Bunda dan keluarga🙂

  13. monda says:

    Silence is golden, lebih suka itu bun bila bertemu orang baru. Dgn teman lamapun tak semua dibuka.

  14. ☺☺☺ says:

    waaaah kita emang perlu terbuka untuk beberapa orang dan saya lagi mencoba untuk hal itu ☺

  15. MeyBengkulen says:

    yg plg privasi ckup ma dia aja deh bun. plg aman🙂

  16. wi3nd says:

    untuk hal hal yang bersifat umum bisa dengan terbuka,tapi untuk yang pribadi biasanya perlu waktu untuk membuka diri pada orang yang baru dikenal,

    proseslah istilahnya.

    bisa dengan mudah langsung terbuka jika sudah klik,tapi bisa amat susah juga meski sudah kenal lama.

    karna begitulah uniknya manusia🙂

  17. “Membuka Diri, Siapa Takut?”
    Tidak akan takut apabila diri kita selalu dekat dengan ilmu-Nya (rahmat-Nya)!
    Yang mesti kita takutkan adalah perjalanan diri kita yang menyimpang dari ilmu-Nya (ajaran-Nya) …
    Maaf, Bunda, kalau konteksnya agak menyimpang …

  18. nia/mama ina says:

    Aku juga cuma berani cerita sama orang yang kira2 bisa menjaga rahasia……soalnya pernah salah orang, eh akhirnya malah menjadi issu yang tdk terkendali…..

  19. Ann says:

    Sebagai orang yang bekerja dalam sebuah ‘team’ keterbukaan memang harus ada meski tetap ada batasannya.
    Kalau dengan pasangan ya tidak ada yang harus ditutupi lagi🙂

  20. callme eno says:

    Setuju dengan Postingan bunda diatas…. tapi Eno ga papa kan bunda, langsung blak-blakan ma bunda sendiri??? *aduuh jd malu dengan sesi curhat malam minggu* Alhamdulillah setelah blak-blakan ma bunda selama +/- 3jam stress berkurang bund…. terima kasih banyak loch bunda sayang…. ^_^ jd pengen tlpnan mba bunda lagi…. bund bersediakan jika ada curhat sesion 2???? :p

  21. Membuka diri butuh proses dan tahapan. Bisa makan waktu singkat atau sebaliknya, sangat individual. Salam hangat, Bunda….:)

  22. aryadevi says:

    dengan membuka…tetap memilah dan memilih perihal apa yang patut dibuka kepada orang lain. Biar bagaimanapun tetap ada hal privasi yang tidak perlu orang lain tahu, dikaitkan dengan permasalahan, apakah ini menyangkut kepentingan orang banyak atau pasangan kita…..tetapi tetap berlandaskan pada kejujuran. Keterbukaan dan kejujuran berjalan bergandengan.

    • Abi Sabila says:

      setuju! ada batasan-batasan dimana tidak semua orang perlu dan boleh tahu. keterbukaan janganlah kebablasan, dan kejujuran tetap menjadi keharusan

  23. mylitleusagi says:

    aku orang yang terbuka..
    atau tertutup yakk😀😀😀😀

    semuanya tergantung chemistry yang ada aja
    sreg atau gak sreg
    kalau aku sreg sama orangnya…
    biasanya aku cerita banyak..
    tapi kalau gak…
    aku cerita yang lucu..lucu aja..😀😀😀

  24. giewahyudi says:

    Dulu saya orangnya tertutup sekali, introvert..
    Tapi kemudian seiring berjalannya waktu, saya piker menutup diri banyak ruginya dan kemudian saya bisa membuka diri..
    Membuka diri berarti membuka dunia untuk kita gapai..🙂

  25. unyil says:

    salam kenal dari semarang bunda🙂

  26. zee says:

    Salam kenal bunda,
    selama ini sudah lihat nama bunda di blog om trainer dan pakde, tapi baru sekarang main kesini.

    Tulisan ini tepat sekali dengan yang saya alami baru2 ini. Mungkin karena keterbukaan saya yang terlalu blak-blakan, ada teman yang merasa bahwa itu harus dikurangi. Padahal mskd saya justru biar tdk ada yg disimpan2, kalau tak suka ya bilang saja, utk apa bicara di belakang. Tp saya paham bahwa setiap orang punya cara pandang yang berbeda. Begitulah uniknya manusia.

  27. persoalannya disaat kita sudah berkeluarga kita tidak bisa semena mena mambuka diri kepada siapa saja , karena pribadi kita tak hanya milik kita saja tapi juga pasangan kita, anak2 kita…, jadi sebelum kita melakukan itu tentu hal tsb dijadikan pertimbangan….., kita pikirkan adakah dampaknya thd kehidupan keluarga kita.

  28. nh18 says:

    Setuju Bunda Ly …
    Adalah sangat tidak nyaman sekali bekerja dengan suasana yang penuh basa – basi dan sarat berisi para Jaimers …

    Dan sama tidak nyamannya … jika kita bekerja disuasana yang tanpa Privacy …
    nyablak … tak ada tedeng aling-aling … bahkan untuk hal yang sangat pribadi sekalipun …

    So kuncinya adalah … keterbukaan yang sewajarnya … dan bukan Nyablak …
    bagaimanapun privacy … sampai batas-batas tertentu sangat perlu untuk dijaga

    salam saya Bunda Ly

  29. fitrimelinda says:

    aku biasanya sangat terbuka ama org yg udh aku kenal bgt..tp ga semuanya juga sih bund aku buka..
    kalo ama cowokku, aku bisa cerita semuanya..itu akan lebih memudahkan..

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s