Selesai kalimat tadi diucapkan, rasa bersalah tak langsung hengkang begitu saja.

Bahkan, bisa diam dan tinggal di diri Anda untuk waktu yang lama!

Resah gelisah, sudah pukul tiga pagi namun mata masih saja belum bisa dipejamkan.

Memang biasanya seperti itu jika ada yang mengganjal di hati.

Padahal bisa dibilang masalah tadi siang di kantor termasuk sepele.

Beban pekerjaan sedang banyak, Anda sedang konsen untuk menyelesaikannya satu per satu.

Tiba-tiba saja teman Anda yang memang gemar bikin guyonan melucu di depan orang banyak.

Saking asyiknya, tanpa sengaja menumpahkan gelas kopi di meja Anda.

Kata kuncinya adalah “tak sengaja”, dan Anda tahu itu.

Tapi, tetap saja Anda meledak.

Tanpa basa-basi Anda membentak teman Anda itu di depan orang banyak.

Semua jadi diam, runyam dan teman Anda langsung ke luar dari kantor dan tak terlihat batang hidungnya lagi hingga waktunya pulang.

Anda coba menghubunginya, namun ponselnya tak diangkat dan pesan yang ditinggalkan juga tak ada tanggapan.

Alhasil, Anda ditimbun rasa bersalah hingga dini hari.

Jika diminta untuk menyebutkan satu saja rasa bersalah yang sedang dirasakan, bisa-bisa Anda malahan menjawab lima atau bahkan sepuluh buah.

Entah mengapa, wanita memang paling sering didera rasa bersalah.

Penelitian pada fungsi otak mengatakan kalau wanita punya tingkat intelegensia emosi lebih besar dibandingkan pria; mereka lebih cepat membaca gestur, ekspresi, plus tingkat emosi seseorang.

Mungkin dari sini muncul istilah kalau wanita itu lebih sensitif dibandingkan pria.

Memang Salah atau Tidak?

Biasa disebut sebagai true guilt atau false guilt.

Yang terakhir inilah yang paling sering dialami.

Misalnya saja, karena Anda terlalu kritis terhadap diri sendiri atau ada seseorang yang membuat Anda merasa kurang percaya pada kemampuan diri.

Hal-hal yang sebenarnya tak perlu Anda sesalkan, apalagi untuk sampai merasa bersalah, karena semua di luar kontrol Anda.

Jadi Bahan Kritikan

Kadang akan makin sulit untuk menghilangkan rasa bersalah jika sepanjang hidup yang diterima hanyalah kritikan dari sana-sini.

Jika hanya selewat saja sih tak masalah, namun banyak yang justru memutar kritikan pedas dan tak membangun itu di dalam kepala bak kaset rekaman. Lagi, lagi dan lagi.

Jika memang baik, sarannya bisa diterima. Tapi jika tujuannya hanya untuk “menyetir” hidup Anda, untuk apa?

Kebanyakan mereka menggunakan dalih “egois” untuk mengontrol seseorang hingga ia merasa bersalah.

Enyahkan Sekarang Juga, caranya?

Tarik napas dan hembuskan rasa bersalah itu ke luar dari tubuh.

1. Berpikir ulang. Jika Anda memang merasa bersalah karena melakukan sesuatu (berdasarkan pemikiran Anda sendiri, bukan tuduhan dari orang lain) coba ingat kembali kejadiannya.

Jika melibatkan orang lain, kumpulkan semua keberanian dan katakan dengan tulus kalau Anda benar-benar menyesal. Lapangkan dada dan terima kenyataan dengan fearless.

2. Cari tahu asalnya. Jika dari orang lain, tanyakan lagi sesempurna apakah sosok tersebut? Ya, tak sesempurna itu.

Kalau perlu, bikin daftar ketidak sempurnaannya.

Dia tak punya hak untuk “menghakimi” Anda, karena diri Anda, pribadi Anda, milik Anda seorang.

3. “Harus”. Jika rasa bersalah muncul, hentikan permainan, “Saya seharusnya seperti ini, seharusnya melakukan itu…” Dengan begitu Anda hanya punya ekspektasi tak realistis dari diri Anda.

Plus, akan ada mereka yang berkata, “Saya tahu saya tak terlalu penting di kehidupan Anda,” atau, “Serius tak ingin pulang sekarang?”

Dan banyak lagi. Nasihat dan saran dari mereka tentu saja mesti didengarkan. Tapi keputusan akhir tetap ada di tangan Anda.

4. Rendah diri. Jangan pernah menyebut rendah diri sendiri. “Mengapa saya bisa begitu bodoh, jika saya bisa lebih pintar, tak percaya saya baru saja melakukan itu!”

Coba untuk ungkapkan kalimat tadi dengan penggunaan bahasa positif, “Ya, mungkin saya tadi itu salah. Tapi saya jadi punya pengalaman berharga.”

Jadi, jangan sampai rasa bersalah yang ada, menyebabkan anda murung terus menerus, masih ada kok jalan keluarnya  yang tetap mebuat anda ceria  dalam memandang masalah.

Salam

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

44 responses »

Comment navigation

  1. Pakde Cholik says:

    Setiap manusia pernah mengalami hal yang serupa yaitu”merasa bersalah”. Tentu perasaan seperti itu boleh berlarut-larut agartak mengganggu pikiran yang bisa berdampak buruk terhadap kinerja kita.

    Langkah yang ditempuh diatas saya kira sudah on the right track walaupun tetap disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
    Terima kasih artikelnya yang bermanfaat.
    Salam hangat dari Jombang

    ya Dhe, tau salah ya minta maaf,
    lalu memperbaiki , jgn mengulang kesalahan yg sama ya🙂
    salam

  2. edratna says:

    Kejadian seperti di atas, sering terjadi di kantor, apalagi jika sedang dikejar dead line, semua dalam keadaan tegangan tinggi. Terjadi kesalahan kecil, bisa menimbulkan ledakan.
    Yang penting, kedua pihak menenangkan diri, baru jika sudah tenang bisa dibicarakan baik-baik. Dan yang sebetulnya harus merasa bersalah, adalah yang membuat orang lain marah….

    jangan dibalik kondisinya ya Bu🙂
    dan, bila kesalahan terus menerus dipikirkan
    hingga kita terpuruk, juga gak baik khan Bu ?🙂
    salam

  3. yup, bener itu bunda

    🙂🙂
    salam

Comment navigation

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s