Tidak mudah menyatukan dua orang dengan latar belakang berbeda dalam satu pernikahan.

Menurut salah satu teori psikologi, semakin banyak kesamaan yang dimiliki pasangan, akan semakin mengukuhkan relasi.

Kita berteman saja kan pilih-pilih orang, mana yang cocok dan nyambung dengan kita, apalagi mencari pasangan.

Kesamaan yang dimaksud bukanlah kesamaan fisik, melainkan kesamaan latar belakang, seperti status sosial, pendidikan, agama, visi, atau cara seseorang dibesarkan.

Cara seseorang dibesarkan akan sangat berpengaruh pada cara pikir seseorang.

Latar belakang itulah yang oleh masyarakat Jawa disebut bobot, bibit, bebet. Namun, sering kali filosofi itu dimaknai secara sempit.

Bobot, bibit, bebet selalu dikaitkan dengan segala hal yang bersifat materialistik.

Kesamaan atau keseimbangan latar belakang membuat komunikasi antar pasangan nyambung.

Komunikasi ini dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan yang muncul dalam perkawinan.

Sikap berbesar hati sangat dibutuhkan agar masing-masing orang bisa mengenal pasangannya.

Seperti dialami Dina (45) yang sudah menikah selama 20 tahun dengan pasangannya, Rahman (49).

Meski pernikahan mereka bukan seumur jagung, Dina masih berusaha untuk terus mengenali pasangannya, melakukan penyesuaian-penyesuaian, dan berkompromi.

”Saya akhirnya memahami bahwa suami saya dibesarkan oleh orangtua yang otoriter sehingga ia kurang punya inisiatif. Di keluarganya, jarak antara dia dan saudaranya juga jauh sehingga waktu kecil ia dilayani kakak-kakaknya yang membantu pengasuhan,” kata Dina.

Untuk ”menaklukkan” pasangannya, Dina membeli buku-buku yang membahas soal hubungan antara laki-laki dan perempuan serta bagaimana berkomunikasi dengan pasangan.

Saran-saran yang tertulis di buku itu lalu diterapkan Dina  dalam berkomunikasi dengan pasangan dan membuatnya lebih memahami pasangannya.

Dengan melakukan perubahan pada dirinya sendiri, Dina bisa membuat Rahman ikut terlibat dalam membina rumah tangga.

”Tidak ada salahnya kita berubah dulu untuk membuat orang lain berubah.”


Salam

PS : ”Tulisan ini dipersembahkan untuk  Ian Abuhanzhalah, dalam event : Saya menulis tentang nikah……….”


About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

93 responses »

  1. chity loverz bieber says:

    Bobot, Bibit, Bebet emng sngt pnting dlm mnjalin swtu hbngan, pa lgi dlm prnikahan..tpi gmn klo Bobot, Bibit, Bebet nya udh perfect tpi qt’y gk cnta gmn???

  2. BBB emang penting banget ya???? Ya emg itu buat tujuan hidup yang baik,tp tdk hrus dan wajib kan???

    kalau menurut Rasulullah saw, pilihlah yg agamanya paling baik,Yohan
    salam

  3. Saya juga dalam membina rumah tangga yang baru berumur 2 tahun lebih pontang panting dalam memahami karakter istri saya yang begitu galak, pemarah, pencemburu. Seperti Bunda katakan cara orang tua mendidik akan mempengaruhi kondisi kejiwaan anak. Saya sering menasehati istri saya namun hanya lewat begitu saja. Akhirnya saya biarkan saja namun saya berusaha untuk memperbaiki diri dalam memperlakukan istri saya dengan baik. Seiring waktu berjalan tabiat istri saya mulai sedikit berubah. Seseorang akan berubah sejalan dengan umur dan pengalaman yang bertambah.

    dalam rumah tangga, memang banyak sekali yg harus kita sesuaikan,
    krn pd dasarnya tdk ada seorangpun yg bisa cocok dgn berbagai macam karakter,
    hanya berusaha utk dicocok kan saja,
    dgn cara2 dan kiat2 yg telah ada dlm tuntunan Nabi saw.
    Semoga keluarga kita termasuk keluarga yg sakinah , mawwadah wa rohmah , amin
    salam hangat utk istri tersayang
    salam

  4. saya pribadi kurang setuju dengan kata – kata “Kesamaan atau keseimbangan latar belakang membuat komunikasi antar pasangan nyambung”. keindahan sebuah rumah tangga menurut saya bukan terletak pada persamaan persepsi antara suami dan istri. akan tetapi sikap ketika menghadapi perbedaan yang ada di dalam rumah tangga.

    gak apa2 kok Mas, kurang setuju 🙂
    memang disini tempatnya utk bertukar pendapat dan saling mengingatkan 🙂
    terimakasih sudah berkunjung
    salam

  5. Abula says:

    karena kami sadar (saya & pasangan) bahwa kami berbeda, kami sepakat untuk mengikat diri,,, perbedaan yg ada akan kami atasi bersama dgn 1 bahasa, dan bahasa itu adalah bhs cinta…

    dengan bahasa cinta , semuapun akan makin indah ya Mas Abu 🙂
    salam hangat utk istri tercinta
    salam

  6. callme eno says:

    ”Tidak ada salahnya kita berubah dulu untuk membuat orang lain berubah.”

    waaah….kalimat tersebut merupakan kunci keberhasilan Rasul yg paling utama bund,untuk menjadi pemimpin sukses yang dicintai…. “ibda’ bi nafsik!”

    —salam kangen bunda ^_^—-

    dan berubahnya menjadi lebih baik dan positif ya Enno 🙂
    kangennn.. juga (*hugz erat*) 😀
    salam

  7. isdiyanto says:

    semua kan demi masa depan supaya lebih T E R J A M I N . . . . .

    juga selamat dunia akhirat ya Mas 🙂
    salam

  8. nh18 says:

    ”Tidak ada salahnya kita berubah dulu untuk membuat orang lain berubah.”

    Kalimat itu powerfull …

    Ini kadang suka kita lupakan Bunda Ly …
    Karena gengsi … dan yang sejenisnya …
    (menikah kok gengsian )(hehehehe)

    kalau gengsi terus jangan nikah ya Mas Enha 🙂
    salam

    Salam saya Bunda

  9. ifin says:

    perlu banyak belajar untuk merubah menjadi yang terbaik… setuju bunda… 🙂

    yah benar sekali Mas, belajar terus menerus ya 🙂
    salam

  10. rurumichan says:

    wuah bner bgt bunda susah buat nyatuin pemikiran kdang kita maunya gini dy mauny gitu harus saling pengertian yaah bun 😀
    bagus bgt deh artikel2nyaa

    jadi hrs selalu saling pengertian ya Ru 🙂
    terimakasih Ruru sayang …………..
    salam

  11. didot says:

    komunikasi adalah tentang apa yg diterima oleh lawan bicara kita (dengan latar belakangnya dia) bukan tentang apa yg kita sampaikan

    belajar terus soal hal2 seperti ini dalam hidup,karena manusia itu mahluk yg kompleks ,betul kan bunda sayang?? 🙂

    setuju Mas Didot, krn belajar itu seumur hidup, bukan hanya komunikasi saja,
    banyak hal lain yg hrs terus dipelajari dlm hidup kita ini ya
    salam

  12. kikakirana says:

    susah… berat… semoga Allah selalu menuntun ke jalan yang benar… pilihan yang benar,,, :mrgreen:

    HIDUP!!! ^_^

    gak berat kok QK,khan gak digandulin besi :mrgreen:
    bunda ikut mengaminkan doanya .
    salam

  13. guskar says:

    3B, menurut saya akan ttp menjadi pertimbangan utama dalam menemukan jodoh. spt kata ceusovi, mesti dimaknai dng arti yg luas.

    bunda setuju sekali ,Gus.
    memerlukan pengertian akan maknanya lebih luas lagi 🙂
    salam

  14. ceuceu says:

    hmm.. betul sekali Bun, banyak orang yang mengartikan ‘bobot, bibit, bebet’ dalam pengertian sempit. Banyak kasus perceraian disebabkan oleh tidak adanya ‘kesesuaian’ cara berpikir. Memang benar bahwa cara seseorang dibesarkan sangat berpengaruh pada watak/karakter dan sayangnya banyak orang yang tidak peka pada apa yang disukai dan tidak disukai pasangan. Memang sudah seharusnya kita terus belajar, seperti halnya Dina di atas…

    Padahal perkawinan itu adalah saling belajar bersama selamanya ya Ceu 🙂
    salam

  15. doelsoehono says:

    mantap boend itulah langkah orang tua kepada anaknya ..semoga menjadi yang terbaik .

    betul Mas, ortu kita pasti menginginkan yg terbaik utk kita,anak2nya 🙂
    salam

  16. achoey says:

    Ya bunda, jodoh kita adalah cerminan kita
    Ah, saya bersyukur 🙂

    setuju A, cerminan diri kita .
    salam

  17. Tary Sonora says:

    bobot, bibit,bebet, orangtua biasa ngomongin ini ya bund, orang tuaku juga pernah ngomong, tapi bukan bermaksud bobot, bibit,bebet dari keluarga kaya atau terpandang, tapi lebih dari berasal dari keluarga yg baik2.

    nah, kalau sekarang memang seringnya jadi salah persepsi ttg bibit,bebet dan bobot ini 😦
    salam

  18. dedekusn says:

    Bobot, Bibit, Bebet. Orang tua sy juga dulu pernah membicarakan ini Bund & definisinya pun hampir selalu dikaitkan dgn materi, padahal begitu luasnya definis itu tidak hanya diliat dari materi.
    Kalimat terakhirnya sy suka bund, Mudahan sy bisa mengaplikasikannya.

    ya , kenapa ya kok sekarang jadi selalu dikaitkan dgn materi,
    padahal khan maksud ortu kita dulu bukan hanya itu ya,
    yg paling penting justru bobot (ketakwaannya) 🙂
    salam

  19. ario saja says:

    manstabs postingnya brooo

    makasih ya broo… 🙂
    salam

    • dedekusn says:

      Yg mpunya blog bukan Bro tapi Bunda dontworry atw Bunda Lily S :mrgreen:

      Iya kan Bro? eh.. iya kan Bunda? hehe… 😀

      hehehhe……sekali2 lucu juga kok MasDedekusn dipanggil brooo….. 😆
      salam

  20. iiN greeN says:

    salam kenal bunda.. :p
    dalam menjalin hubungan memang penting juga adanya kesamaan.. Yang paling penting adalah sama-sama mau saling menghargai perbedaan ya bun.. 🙂

    salam kenal juga Iin
    betul sekali, mampu menerima kekurangan , apalagi kelebihan pasangan ya 🙂
    salam

  21. ais ariani says:

    as ussual, bunda inspiratif … apalagi kata – kata terakhirnya.
    hmph…
    passs banget buat situasi aku
    😉

    hai, Mbak Ais, apa kabar?
    semoga selalu sehat ya
    alhamdulillah, kalau memang pas 🙂
    salam

  22. Aldy says:

    Kayaknya orang rumah lagi pergi neh…

    dah pulang neh ………………….. 😛
    salam

  23. Sapril says:

    wah, ini yang lagi mau nikah perlu baca ini…. 🙂 Alhamdulillah mama *insya Allah ibu mertua saya* tidak pernah mengatakan soal bobot, bibit, bebet (mungkin karena beliau tau saya pernah tidak di Jogja). Masih terus berusaha untuk terus ‘bertumbuh bersama’, Bunda 🙂
    Terimakasih nasehatnya, salam Bunda 🙂

    Alhamdulillah, memang benar ‘bertumbuh bersama’ itu sangat penting
    dlm sebuah pernikahan.
    titip salam hormat dan sayang bunda utk Mama mertua dan istri tercinta 🙂
    salam

  24. ABDUL AZIZ says:

    Assalamu’alaikum,

    Wah saya banyak ketinggalan mengikuti tulisan Ibu. Ibu begitu produktif. Saya memiliki keterbatasan waktu.

    Membahas pernikahan selalu menarik. Tentu sebagaimana diperintahkan Nabi, syarat utama adalah agamanya. Apakah ia sejak kecil dididik dengan nilai-nilai agama, apakah ia meyakini dan mengamalkan agamanya atau tidak.
    Sebab orang yang berpegang kepada nilai-nilai agama akan memiliki ketulusan cinta, saling menghargai, bertanggung jawab, memiliki etos kerja yang tinggi, rasa kebersamaan, sense of belongingness. Singkatnya orang yang betul-betul menjunjung tinggi agama akan menjadi a smart lover.

    Terima kasih banyak.

    walaikumsalam.wr.wb. Pak Abdaz.
    krn saya dah pensiun, jadi banyak sekali waktu utk ngeblog 🙂
    setuju sekali Pak, utk jadi smart lover, berpedoman pd agama 🙂
    salam

    Salam buat seluruh keluarga.

  25. peri says:

    ehm harus yah bun banyak yang bilang gitu soalnya orang tua…….?
    salam sayang bunda

    krn ortu hanya ingin yg terbaik utk anak2nya Periku sayang 🙂
    salam

  26. bayuputra says:

    Selamat sore bunda .. selamat berakhir pekan …

    selamat sore juga Mas Bayu………..
    selamat berakhir pekan 🙂
    salam

  27. greengrinn says:

    bobot bibit bebet 😆 ini sering sekali diulang-ulang sama ayah saya 😀

    krn ortu selalu inginkan yg terbaik utk anak2nya 🙂
    salam

  28. Mas Ben says:

    Ya benar sekali pemeo bahwa cinta saja tidak cukup dalam membangun rumah tangga.
    Harus didukung komitmen dari keduanya untuk saling asah, asih dan asuh dalam setiap kata dan tindakan 🙂

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

    cocok sekali kalau itu sih Mas Ben 🙂
    seperti Mas Ben dgn Jeng Arum ya 🙂
    salam

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s