Sore hari di akhir November 2005. Saya mampir di Pasar Godean yang dikenal sebagai sentra belut goreng, dengan diantar sopir perusahaan tempat suami bekerja bila keluar kota, saya berniat membeli makanan kesukaan keluarga itu.

Saat berjalan menuju deretan penjual belut goreng, seorang perempuan sepuh mencoba menarik perhatian saya;

Bu, mbok mriki, kulo ditumbasi ( Bu, kesini dong, tolong dagangan saya dibeli ) ” katanya mengiba, sambil jongkok menunggui pecel dagangannya yang masih menggunung.

Sekedap nggih, Mbah ( Sebentar ya Nek ) ” jawab   saya.

Dalam hati saya berniat juga untuk membeli, tapi belut goreng lebih menggiurkan. Saya menunda menghampiri si Mbah dan gunungan pecelnya, padahal hari sudah cukup sore, sekitar pukul 17.00.

Setelah membeli belut goreng cukup banyak ( karena saya juga ingin menjadikannya sebagai oleh2) saya kembali ke tempat parkir sembari tengok kiri kanan.

Wah, ternyata si Mbah sudah tidak kelihatan, tukang parkir yang saya tanyakan menjelaskan mungkin si Mbah sudah pulang.

Saya terdiam.

Sedih rasanya melepaskan si Mbah pergi dengan membayangkan dagangannya yang masih menumpuk, ia pergi tanpa mendapatkan uang. Coba kalau tadi saya tidak menunda keinginan untuk membeli……….

Ya Tuhan, mengapa saya harus menunda keinginan untuk membeli pecel si Mbah ?

Ya Tuhan, mengapa saya harus menunda melakukan setitik kebaikan yang sudah dibisikkan hati kecil saya dengan suara begitu lembutnya ?

Tak henti2nya saya menyesali kesempatan yang hilang itu. Bahkan dalam waktu lama, pikiran itu masih membayangi.

Bertitik tolak dari peristiwa itu, saya sekarang bertumbuh menjadi orang yang paling takut  menunda keinginan berbuat kebaikan, meski untuk hal kecil dan bagi orang lain tidak berarti.

Yang jelas, saya tidak mau menjadi orang yang kesekian kalinya ” kehilangan ” dan akhirnya hanya bisa menyesal.

Pernahkah sahabat mengalami hal seperti saya, yakni kehilangan kesempatan untuk berbuat kebaikan?

Salam.

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

33 responses »

Comment navigation

  1. ningrum says:

    Pernah Bunda, rasanya sedih sekali..
    ==============================
    dan, berusaha agar tak terulang lagi ya Mbak.
    salam.

  2. callme eno says:

    setujuuu dng bunda dan para komentator yang lain….untuk tidak menunda-nunda segala sesuatunya…apakah itu pekerjaan atau bahkan kebaikan…
    Eno jadi ingat dengan pepatah arab kuno yang isinya “Telur hari ini lebih baik dari pada ayam esok hari”
    ==================================
    mudah2an kita gak selalu menunda2 ya Mbak Eno.
    salam.

Comment navigation

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s