Lidah memang punya keunikan sendiri. Di satu sisi, alat tubuh inilah yang kerap digunakan untuk berbohong. Tapi di sisi lain, justru ia tak pernah bohong dalam satu hal: rasa. Orang pun mengatakan, rasa memang nggak pernah bohong !

Kehidupan berumah tangga persis seperti sekolah alam. Di situlah orang belajar banyak tentang berbagai hal. Mulai manajemen, administrasi, keuangan, komunikasi, juga soal kepribadian.

Dari madrasah keluargalah orang menjadi makin pintar dan pengalaman. Pintar karena berkembangnya kemampuan memilih dan memilah mana yang baik dan buruk. Dan pengalaman ketika kepiawaian kian tumbuh saat menyikapi tingkah polah lingkungan.

Dari pintar dan pengalaman itu, orang pun menjadi semakin bijak. Mungkin, masyarakat biasa menyebutnya C3: cool, calm, confident. Dalam soal apa pun, termasuk ketika mesti berbohong demi sebuah kebaikan. Hal itulah yang kerap dirasakan Pak Agus.

Sebenarnya, berbohong bukan tipe Pak Agus. Ayah dua anak ini yakin kalau seumur-umur, baru soal ini ia tega berkata tidak sejujurnya. Dan itu pun ia lakukan setelah dapat jawaban dari seorang ustadz, kalau berbohong demi menutup aib isteri itu boleh. Aib isteri ?

Kayaknya, nggak pas kalau disebut aib. Pak Agus yakin, itu bukan aib. Tapi lebih kepada skill, atau keterampilan. Pasalnya, hingga punya anak dua ini, isteri Pak Agus belum mahir masak. Lalu, apa yang salah kalau isteri nggak jago masak ? Bukankah banyak ibu-ibu pejabat yang nggak bisa masak ?

Persoalannya bukan di situ. Bukan soal sekadar isteri nggak bisa masak. Bukan juga karena tidak ada biaya buat gaji  ngebantuin masak. Insya Allah, Pak Agus paham kalau itu bukan masalah.

Tapi, ada rasa percaya diri isteri Pak Agus yang teramat hebat. Dan percaya diri itulah yang membuat dilema Pak Agus.

Setelah punya rumah sendiri, Pak Agus dan isteri mencoba menata kehidupan keluarga yang seimbang, serasi, dan mandiri. Termasuk dalam soal masak memasak.

Kalau sebelumnya, masakan seratus persen ditangani orang tua, kini isteri Pak Agus belajar masak sendiri. Sebuah langkah yang sangat dikagumi para suami.

Bayangkan jika dapur keluarga ada di warung padang, restoran, kafe, rumah makan siap saji. Wah, biaya keluarga bisa melonjak dua hingga tiga kali lipat. Dampak itu mungkin masih belum seberapa.

Ada yang jauh lebih berharga dari sekadar pengeluaran. Kalau yang masak isteri, ada hubungan batin antara suami, isteri, dan anak-anak. Ketika makan, suami ingat isteri, anak-anak ingat ibu: betapa mahal jerih payah isteri atau ibu, hingga menghasilkan masakan yang begini lezat, sehat, dan bergizi.

Subhanallah. Itulah perekat cinta yang paling mahal, langgeng, dan kokoh.

Sampai di situ, Pak Agus sangat bahagia. Ia begitu bersyukur punya isteri yang punya penilaian teliti soal masak sendiri.

Tapi, soal percaya diri isteri itu yang bikin repot sang suami. Walau masakannya masih jauh dari enak, apalagi lezat, isteri Pak Agus selalu yakin seyakin-yakinnya kalau masakannya pasti digemari orang. Setidaknya, Pak Agus bisa jadi sampel.

Tiap kali makan bersama, isteri Pak Agus menatap lekat reaksi wajah sang suami. Senyumnya menghias wajahnya yang polos. Dan hatinya pun berbunga-bunga menerka pujian apa yang akan disampaikan suami.

Tapi kadang, ia lebih tidak sabar menanti reaksi lama itu. Isteri Pak Agus pun kerap berujar, “Enak kan ?! Enak kan, Mas ?!”

Kalau sudah begitu, Pak Agus tak bisa berbuat banyak kecuali senyum. Dan ketidaksabaran isteri menanti reaksi pun ia balas dengan baik, “ Hmm, nikmatnya. Belum pernah aku rasakan sayur asem seperti ini. Hmm, nikmat!” Pak Agus pun mencoba makan dengan lahap.

Tapi setelah itu, ada satu hal yang selalu terjadi tiap kali sayur asem tersantap habis. Pak Agus langsung ke belakang. Perutnya mulas. Dan ia pun diajari perutnya tentang ikhlas. Lepas, tanpa ganjalan.

Masakan primadona sayur asem itulah yang akhirnya jadi obat mujarab buat Pak Agus. Tiap kali ia mengalami sembelit, ia minta dibuatkan sayur asem.

Cuma, sembelit itu ia rahasiakan buat dirinya sendiri. Beberapa saat setelah menyantap sayur yang sebenarnya teramat asem itu, sembelitnya pun langsung sembuh. Bahkan, sangat sembuh.

Hampir tiap bulan, isteri Pak Agus selalu mencoba resep baru. Beberapa majalah ia kumpulkan, ia teliti, dan akhirnya ia coba. Ada resep ayam panggang ala Solo, gado-gado Betawi, olahan ikan khas Makasar, dan masih banyak resep daerah lain.

Biasanya, untuk memastikan kalau masakannya selalu sukses, Pak Aguslah yang diberikan kehormatan sebagai pencicip pertama.

Reaksi Pak Agus pun selalu sama, “ Subhanallah, mantap. Jarang yang bisa masak begini!” Dan, isteri Pak Agus pun tersenyum puas.

Menariknya, isteri Pak Agus tak akan mencoba sedikit pun hasil masakannya sebelum Pak Agus mencoba. Dan seperti biasa, sebelum ada komentar dari suami, isteri Pak Agus selalu bilang, “ Enak kan ?! Enak kan, Mas. Ya, kan ?! ”

Sayangnya, anak-anak belum pernah mencoba masakan ibu mereka. Pak Agus selalu melarang. Alasannya sederhana, mereka masih balita. Pencernaannya belum cocok buat masakan luar biasa buatan ibunya. Dan isteri Pak Agus pun setuju. “ Benar, Mas. Anak-anak cukup telor ceplok sama ayam goreng aja!” ujar sang isteri menyetujui.

Ada keinginan isteri Pak Agus yang sulit terbendung. Ia ingin masakan primadonanya, sayur asem, bisa dicicipi para tetangga. Dan sayur asem pun sudah tersaji dalam kemasan cantik yang sudah ia siapkan.

Saat itu juga, Pak Agus mengatakan, “ Biar Mas yang bawakan. Ibu istirahat saja. Supaya keikhlasan ibu tetap terjaga.” Isteri Pak Agus pun mengangguk setuju.

Sore itu, isteri Pak Agus sedang duduk di beranda depan ketika beberapa tetangga menyapa ramah. “ Bu, terima kasih ya. Masakannya enak, lo. Soto babat ibu benar-benar mantap! Kemasannya juga bagus,” ujar mereka hampir bersamaan.

Tinggal isteri Pak Agus yang tetap terdiam seribu bahasa. Perhatiannya bukan lagi ke para tetangga.

Ia cuma memikirkan satu hal: soto babat ? Bukan sayur asem ?.

Salam.

Gambar2 : corbis.com

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

50 responses »

Comment navigation

  1. zulhaq says:

    pak agussssssss….saya ini pecinta sayur asem lohhh

    *gak da hubungannya*🙂
    ================================
    he……he………sayur asemnya sudah diganti soto babat tuh,Mas…………….:)🙂
    salam.

  2. Abdul Cholik says:

    Ada sisi yang perlu dicermati:
    1. Pak Agus ingin menjaga perasaan isteri yang sudah bekerja keras mengasuh anak,masak dll. Mungkin nggak tega jika marah gara2 sayur asem yang rasanya bak kadal mesir itu.

    2.Ketidak jujuran pak Agus membuat sayur asem itu tidak ada perubahan dalam rasa karena istrinya menganggap sayur asem itu sudah ngeTop.

    3. Pak Agus akan terus berbohong dan berbohong lagi. Lha kalau bu Agus mau kirim masakan ke mertua, pak Agus harus beli sayuran lain donk agar isterinya tak malu…capek deh.

    Kalau saya pasti bilang ” Kok agak kurang asem ya mak sayurnya ”
    yang penting bagaimana cara menyampaikan suatu kritik sehingga terbangun hal yang lebih baik.

    Salam hangat dari Surabaya
    ========================================
    tapi………itulah terjadi PakDhe…………tapi,duluuuuuuu……sekali,
    sekarang istri Pak Agus, sudah hebat lho, malah menang kontes memasak di tempat PakDhe………
    he…….he………………walaupun pernah gagal bikin ayam betutu…………….:(😦 :(*pengakuan dosa*
    salam.

  3. guskar says:

    bunda lily, pak Agus yg ini bukan tetangganya pak Joko itu kan? soalnya yg saya tahu, istrinya pak Agus yg tetangganya pak Joko itu kalo masak enak banget… lagian pernah menang kontes masak-memasak loh…
    salam untuk Pak Agus, sekaligus utk Pak Joko jg ya bun? 😀
    =========================================
    he…..he……..Gus……….kok seperti peramal sih…..:)🙂
    jadi malu, ketahuan sejarahnya oleh Gus………..:(😦😦
    terima kasih, insyaallah, salamnya nanti disampaikan.
    Salam.

  4. RitaSusanti says:

    Wah Bund pesan hikmah kali ini Bunda sampaikan lewat sayur asem yah:)…hmm, kesimpulannya sang istri itu memang harus jeli melihat reaksi suami, apakah dibuat-buat atau memang tulus pujiannya:). Dan harus berbesar hati menerima masukan dari suami.
    Tapi mungkin terkadang suami perlu jujur juga kali ya Bund, masak iya sayurnya asem terus-terusan si suami diam aja, kan itu namanya sudah bukan bohong demi kebaikan lagi, tapi kok ya malah jadi menjerumuskan. Kan jadi masalah ketika nanti ada tamu atau ingin berbagi dengan tetangga. Jadi saya fikir sudah saatnya Pak Agus membongkar kebohongan demi sebuah kebaikan yg lebih besar, iya toh Bund:)
    ===========================================
    betul juga,Mbak Rita.
    nanti bunda sampaikan pd Pak Agus…….:)🙂
    salam.

  5. dedekusn says:

    😀😀 Salam untuk Pak AGus😀
    =========================
    Pak Agus bilang : terima kasih utk salamnya Mas Dedekusn……:D😀
    salam.

  6. kawanlama95 says:

    lupa bund satu lagi, kalo mau kasih sayur asem kuahnya yang banyak ya. jangan lupa ya bund
    =======================================
    kalau sudah sampai, tolong kasih tahu ya Mas………..:D😀😀
    salam.

  7. kawanlama95 says:

    akhirnya ngasihnya ketetangga bukan sayur asem tapi soto babat.hmm sepertinya kalau mau kasih sayur asem ke aku boleh juga tapi nanti malah dikirim rendang lagi.

    jadi mau dikirim yang mana ni bund?
    ===================================
    bunda kan kirimkan semua utk Kawanlama yg baik………..:)🙂
    salam.

  8. sunflo says:

    sunflo juga suka sayur asem bundo…ma ikan asin n sambel…wooww..eunak tenaan…^^
    ==================================
    dan, nasinya hangat2 ya Mbak Sunflo……….:D😀
    salam.

  9. ajikinai says:

    Bunda, kalo udah sangat sayang ya gitu deh…ga mau yang tersayang tersakiti…hehe boleh juga pak Agus…
    ====================================
    Mas Aji juga nanti kalau sudah jadi suami,
    juga kayak gitu khan……………???????:D😀😀
    salam.

  10. Rychan says:

    Syukuri apa yang ada……🙂
    =============================
    karena kedamaian hati ada dlm rasa syukur.
    salam.

  11. ihsan says:

    saya mau dong sayur asem nya🙂
    ==========================
    silakan, di dapur masih sepanci …………..
    salam.

  12. wi3nd says:

    salut wat suaminya..🙂
    bunda selalu pandai men9emas ceritanya🙂
    ==========================
    sebagai tanda sayang istri ya Wi3nd………
    terima kasih utk pujiannya wi3nd,
    berilah bunda ini kritikan juga ya……..:)🙂
    salam.

  13. makngah lena says:

    wo ow.. istri pak agus pasti bingung ya , bun..
    hi..hi..
    ================================
    bingung banget Mak, kok sayur asem rasa soto babat sih ???
    salam.

  14. dasir says:

    Mencari sayur asem buat lauk sarapan.. Assalamu’alaikum
    ===============================
    walaikumsalam.wr.wb.
    utk sarapan, makan siang atau makan malam,
    sayur asem tetap enak…………..
    salam.

  15. nanaharmanto says:

    Ads tiga hal, Bunda…

    #1. kalau saya jadi istri, saya selalu ngicipin masakan saya dulu, kurang bumbu apa, keasinan atau nggak…

    #2. kalau saya jadi suami, saya akan terus terang pada istri, bahwa masakannya sebaiknya diicipin dulu sebelum dihidangkan atau dibagikan pada orang lain..(dengan halus tentunya)

    #3.kalau saya jadi istri yang dikritik begitu, saya akan legowo, berarti suami memang penuh perhatian. kadang dikritik itu memang nggak enak, kadang sakit, tapi kan demi kebaikan..saya mending dikritk di depan saya daripada sayur asem saya diganti dengan soto, jadi sayur asem sebanyak itu dibuang ya…aduh, sakit hati deh…
    ========================================
    memang sebaiknya kita sebagai pasangan suami istri harus
    selalu saling terbuka dan memberi masukan yg baik pd
    pasangan kita, namun ada juga ternyata yg nggak tega utk bilang ke istrinya ttg kekurangan
    nya, takut sang istri kecewa, mk jadilah sayur asem berubah wujud dan rasa sbg soto babat.
    salam.

  16. septarius says:

    ..
    Menurut saya pak agus harus lebih terbuka, memberi masukan pada istrinya supaya masakannya lebih enak..
    ..
    =================================
    rupanya Pak Agus termasuk
    suami yg nggak tegaan ya………..
    salam.

  17. nakjaDimande says:

    hehhhee, pak Agus itu seperti KD bun.. semuanya masakan istrinya enak!

    **jadi termotivasi memasak yang betul-betul enak buat KD, alhamdulillah kemarin sudah dapat kiriman buku resep dari pakde😀
    ========================================
    betul Bundoku, kita berdua harus
    banyak belajar dr buku tali asihnya PakDhe………..:D😀😀
    Salam.

  18. oelil says:

    Namun tetap harus di hargai semangat sang istri. Sy pernah di tinggal mudik istri, ternyata masak juga gak gampang ya
    =====================================
    Mas Oelil, sampai gosong nggak masaknya……???:D😀
    Salam.

  19. Abdi Jaya says:

    kisahnya happy ending buat tetangga, tapi menyedihkan buat sang istri. Alasan apa yang dikemukakan pak Agus ya? Pasti istrinya sangat kecewa
    ================================
    biarkan itu jadi rahasianya Pak Agus, Bang Jaya…………….:)🙂
    Salam.

  20. liza says:

    hmm… jadi pelajaran juga kalo sudah menjadi istri kelak ya bunda.. walaupun suaminya sebaik pak agus, tetap aja ngga boleh pede. harus sedikit sensitif… pelajaran berharga untuk liza bunda.. kalo udah jadi istri kelakkk… hehhehe… tapi liza udah bisa masak lho bunda, walau yang masih ringan2.. hehehhe
    ===========================================
    wah, suami Liza nanti pasti bahagia sekali
    dibuatkan masakan lezat oleh Liza,
    bunda juga disuruh cicipin mau banget, Liza…………….:D😀😀
    salam.

Comment navigation

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s