Seorang kakek berusia 70 thn-an sangat rajin sekali berjamaah di sebuah masjid t di kompleks kami.
Bahkan dia sering menunggu pintu masjid dibuka.
Sangat rajin sekali.
Hujan pun tidak membuatnya udhur dari sholat berjamaah.

Saya tertarik meng-interview untuk mencari tahu,  “ daya dorong apa yang begitu dahsyatnya, sehingga semua halangan bisa dia lalui dan berjamaah dengan istiqomah ”.

Setelah ber-dzikir dan berdo’a bersama imam, sang kakek selalu menutupnya dengan sholat ba’diyah.
Setelah selesai sholat ba’diyah, saya memberanikan diri untuk menyapanya:

“ Assalaamu ‘alaikum Kek, hari ini sepi sekali masjid kita. Satu shaf-pun tidak penuh, pada ke mana ya? Kalo saja jamaah di Subuh ini bisa seperti jamaah ketika Sholat Ied……….”.

Sambil tersenyum Sang Kakek menjawab :

“ Semulya-mulya amal adalah yang didasari ke-ikhlasan. Amal tanpa ikhlas ibarat debu di atas batu, yang akhirnya hilang disapu hujan. Sang pengamal hanya dapat capek saja.

Mungkin saat itu manusia menghargai dia karena kelihatannya taat dan rajin jamaah di masjid. Tapi itu semua tidak ada artinya dimata Allah. Allah tidak menilai sibuknya gerakan tubuh, tapi Allah menilai ikhlasnya hati. Yaitu ibadah yang hanya ditujukan pada-Nya ”.

“Apa maksud Kakek yang tidak jamaah di Subuh ini berarti ketika Sholat Ied dia tidak ikhlas karena Allah?

“ Bukan totally tidak ikhlas. Tapi mungkin daya dorong jamaahnya yang kurang kuat. Kadang orang yang merasa tidak salah, tidak merasa cukup punya alasan untuk minta maaf.

” Manusia yang berkecukupan, merasa belum perlu untuk meminta/ meng-hamba. Manusia yang sibuk dengan bisnis/kerjaannya, merasa sanggup “ berdiri ” tanpa bantuan Sang Khaliq.

Singkat kata, orang merasa belum perlu ke dokter kalau tidak sakit. Tapi itu memang tidak terjadi pada semua manusia”.

“ Manusia yang bagaimana yang tidak termasuk itu semua Kek ? ”.

“ Manusia yang selalu berusaha memperbaiki diri dan bersyukur karena Allah. Bukan yang agar dikenal sebagai orang baik di tengah2  manusia. Dengan kasih sayang-Nya, Allah memberikan sistem “auto pilot” pada manusia”

“ Apa maksud Kakek dengan “auto pilot” itu ? ”

“ Yaitu batasan di kanan kiri, dalam perjalanan ke arah pangkuan-Nya. Pada hakikatnya, semua perjalanan manusia adalah untuk menuju ke pangkuan kasih sayang-Nya. Siapapun dia!!!”

“Apa yang Kakek maksud dengan “batasan kanan” dan “batasan kiri” itu?”

“Ini hanya istilah saya saja. Manusia yang taat pada-Nya, pada hakikatnya dia telah berjalan kearah perjalanan yang benar menuju-Nya. Tapi kadang ketaatan ini membuatnya bangga diri dan mencela mereka yang sesat. Lambat laun keihlasannya tercemari dengan virus “riya, yang pada akhirnya tujuan ibadahnya lebih untuk “pemutihan” dimata manusia.

Tentu saja Alloh sama sekali tidak menerima ibadah jenis ini. Lalu dengan kasih sayang-Nya, dibelokkanlah manuver hidupnya ke arah kiri.

Titik “trigger” inilah yang merupakan “batasan kanan”. Singkat kata, “batasan kanan” adalah sifat riya”.

“ Apakah ini berarti bahwa “batasan kiri” adalah musibah yang diakibatkan kemaksiatan?”

“ Benar!!!”, jawab Sang Kakek sambil tersenyum.

“Apa Kakek dulu pernah mendalami agama ? ”

Tidak, kakek belajar agama hanya sebatas belajar sholat, ngaji dan selebihnya cuma dari kutbah Jumat. Ketika kakek pensiun, kakek bingung bagaimana cara cepat bertaubat. Dosa banyak tapi sisa umur tinggal sedikit. Makanya cara cepat yang bisa kakek tempuh hanyalah dengan cara meng-ikhlas-kan semua ibadah karena-Nya. Ikhlas dan istiqomah adalah kata kuncinya”.


Alkhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukanku dengan Kakek tua, dan atas hikmah besar yang kudapat hari ini.

Salam.

Sumber: dr berbagai sumber.

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

5 responses »

  1. enozone says:

    ilmu sang kakek tinggi ya bund…terlihat dari pemakaian istilah-istilah nya…

    Bener apa ktanya kakek….smua harus dilandaskan pada keikhlasan…trims ya kek ^^ smoga kakek slalu dalam ke istiqomahan, dan jg mhn doanya ya kek…agar cucu mu bs mencontoh amal ibadah kakek…

    Bunda sayang…salam untuk sang kakek yg arif itu ya..^^
    ===================================
    Insya Allah disampaikan , Mbak
    Memang kita masih banyak harus banyak sekali belajar………..
    Salam.

  2. cahabguzz says:

    Subhanallah, luar biasa. Bahasa sederhana tapi isinya luar biasa. Semoga semakin menyadarkan “Al Faqir” yang baru mencari setetes embun di gurun pasir. Salam kenal dan Terima kasih bu pelajarannya.
    ========================================
    Salam kenal juga Mas,
    terima kasih sudah menyempatkan berkujung kesini,
    Salam.

  3. Oelil says:

    Kita eh aku memang kadang melupakan Dia dikala senang…bahkan tanpa malu lagi kadang menyombongkan diri atas keberhasilan ….tapi disaat kegagalan yg terima…kita eh aku ding, kadang menyalahkanNya…
    Hmmm … mungkin ikhlas dalam segala segi kehidupan akan membantu untuk lebih bertaqwa kapadaNya…
    salam Bunda.
    Nice post
    ====================================
    saya jg, artinya eh,kita ya Mas Oelil……….:)🙂
    masih saja harus terus belajar
    ttg keikhlasan hanya karena NYA dan untukNYA.
    Salam.

  4. Pakde Cholik says:

    Diterimanya ibadah kan ada dua syaratyaitu ikhlas dengan niat karena Allah (bukan supaya dipuji mertua atau atasan) dan benar-sesuai syariah.Walau hatinya ikhlas ketika sholat subuh tetapi kalau rakaatnya sengaja ditambah menjadi 3 karena masih semangat, maka sholatnya tak syah dan tentu tak akan diterima oleh Allah.

    Ikhlas dan benar adalah dwi tunggal yang tak bisa dipisahkan satu sama lain dalam ibadah.

    Salam hangat dari surabaya
    ============================================
    Semoga kita selalu dalam lindunganNYA
    utk dapat beribadah sesuai dgn syariat ya PakDhe.
    Salam.

  5. alamendah says:

    Sosok Kakek yang arif bijaksana namun fungky dan gaul. Punya banyak istilah2 yang keren.
    =================================
    namun tetap mudah dimengerti ya ,Mas.
    Salam.

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s