courtesy of :pinterest.com

Pada awalnya adalah sebuah imajinasi, atau inspirasi.
Kemudian, ditambah dengan pembacaan terhadap situasi yang terjadi dalam masyarakat, atau upaya mengekalkan sebuah peristiwa yang diperkirakan akan selalu dikenang, lahirlah sebuah karya sastra.

Kelahirannya disambut dengan berbagai reaksi.
Ada pembaca yang hanya mampu memberi kesan, ada yang memuji setinggi langit, ada juga yang mengganggapnya sampah.

Mungkin, pecinta novel Ulysses karya James Joyce yang melegenda itu tahu bahwa salah satu kritikus terkuat atas novel itu adalah Fritz Senn.
Jika Anda belum tahu siapa Fritz Senn, maka Anda akan bertanya tanya , siapakah dia?
Ia adalah seorang tukang ledeng yang jatuh cinta setengah mati pada novel itu.
Dengan tekun dan gigih ia mengumpulkan pernak pernik tentang Ulysses, hingga akhirnya ia mendapat gelar doktor kehormatan dari beberapa kampus di dunia.

Memang, apresiasi atas sebuah karya seni kerap memicu beragam persoalan, bahkan tak jarang pula menimbulkan polemik.
Beragam pendapat yang diajukan oleh para kritikus , membuat para peminat dan pengamat seni memiliki beragam sudut pandang yang berbeda atas sebuah karya.

Akan tetapi, tak sedikit pula kritikus yang berlaku sinis terhadap sebuah karya seni atau seniman tertentu.
Alih alih memberikan pertimbangan yang memadai, mereka justru melancarkan kritik untuk mencela sebuah karya seni atau seniman tertentu.
Disinilah ketulusan memainkan peran penting.

Mungkin, kita bukan pencinta seni……….
Namun, sadarlah bahwa dalam kehidupan ini, kita kerap dihadapkan pada persoalan serupa.
Karenanya, yang jadi pertanyaan bagi kita sekarang adalah : apakah kita sudah memberikan penilaian terhadap orang lain dan apa yang dilakukannya berdasarkan ketulusan?

Salam

About these ads

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

5 responses »

  1. ah sulit juga untuk mengkritik atau menilai dengan ketulusan, biasanya sih yang dominan adalah subjektifitas personal

  2. prih says:

    Bunda, saya belum menikmati karya seindah itu
    hikmah tulus dalam mengapresiasi dan mengkritik yang Bunda sematkan menjadi pemandu setiap kami untuk belajar ketulusan. Terima kasih Bunda sharingnya.
    Salam hangat

  3. Seperti apa ya novel yang melegenda itu. Saya belum pernah dengar Bunda. Semoga nanti bisa membacanya.

    keren…bagus…banyak yang didapat didalamnya , Imam :)
    silakan, bisa dicari di toko toko buku besar di seluruh negeri kita kok :)

    salam

  4. ysalma says:

    menilai orang lain berdasarkan tegur sapa yang jarang-jarang, baca tulisan satu dua, kayaknya bisa menimbulkan salah persepsi ya Bund.
    saya bisanya cuma menikmati hasil karya, belum bisa mengkritisi dengan baik.

    sama Mak…
    bunda juga belum pandai mengkritisi sebuah tulisan …
    baru mampu membaca dan menikmati sebuah buku saja .. :P

    salam

  5. Imelda says:

    Bunda sudah baca? Aku beli tapi belum sempat baca nih…. ngeri lihat tebalnya hehehe

    kebetulan sudah Mbak EM :)
    bagus banget …walaupun memang perlu waktu utk menamatkannya …
    hehehe disambi gitu deh… :)

    salam

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s