Melihat kedua orang tuaku yang saling menggenggam tangan lebih menyenangkan dibandingkan melihat film romantis.
Ada skenario dalam sebuah film, yang terkadang hanya menjual mimpi.
Tetapi saat melihat kedua orangtuaku yang masih bersama hingga usia senja,
masih saling mencintai,
menggandeng tangan atau merangkul bahu………
itu adalah bukti bahwa cinta mereka abadi,
dan membuat anak cucu mereka iri, termasuk aku.
Seperti kisah cinta para orang tua puluhan tahun yang lalu,
pertemuan dan kisah cinta mereka terjadi dengan sederhana.
Tanpa makan malam romantis, tanpa lagu-lagu cinta,
tanpa SMS atau BBM ucapan sayang,
tanpa pernikahan ala negeri dongeng,
tetapi mereka membuktikan sebuah komitmen cinta yang bertahan selamanya.
Kedua orangtuaku sering bercerita bahwa pertemuan mereka terjadi begitu saja.
Pada masa itu, kondisi Indonesia sedang susah.
Tidak ada rangkaian bunga atau makan malam romantis saat Ayahku menyatakan keseriusannya pada Ibu.
Sederhana saja, : “Yang Maha Kuasa mempertemukan kita dengan cara yang sederhana. Tetapi aku percaya bahwa ini adalah jawaban atas doaku setiap malam. Aku percaya kamu akan menjadi istri yang mendampingiku dalam susah dan senang, menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak,” ujar Ayah saat itu.
Sederhana bukan?
Kalimat itu menjadi awal mula perjalanan cinta mereka, tak butuh waktu lama hingga mereka menikah dalam kesederhanaan.
Mereka memulai perjalanan sebagai suami istri dalam kondisi yang susah.
Mereka saling setia dan menjaga dalam doa.
Hingga usia pernikahan mencapai angka 10 tahun, 20 tahun………. 55 tahun.
Sebuah perjalanan yang sangat panjang.
Lebih menantang daripada film 2 jam atau drama 20 episode yang sering ada di bioskop atau sinetron di televisi..
Saat aku bertanya apakah rasa cinta mereka berkurang seiring dengan banyaknya keriput di wajah, mereka menggeleng.
“Kami jatuh cinta dalam pandangan mata, tetapi saling belajar mengasah cinta dengan hati.
Saat pandangan kami menua, hati kami yang bekerja.”
Itulah kisah cinta milik kedua orangtuaku.
Di usia pernikahan mereka, 55 tahun.
Mereka berpesan bahwa tidak ada pernikahan yang sempurna, mereka juga beberapa kali mengalami pertengkaran atau masalah.
Apakah masalah itu akan menodai cinta yang telah dibangun?
Mereka membuktikannya dengan “TIDAK” dan terus saling berpegangan tangan, saling percaya, saling menopang.
Semoga kisah cinta sederhana ini bisa menjadi milik kita semua.
Tidak ada yang sederhana dalam cinta, karena cinta itu sendiri………………. luar biasa.
Biarkan cinta mereka selalu didampingi dengan rezeki kesehatan dari sisiMU, Ya Rabb……………aamiin
Salam
Gambar diambil dari album keluarga






Ceritanya bagus sekali bu..
bgus sekali critanya, semoga saya bisa seperti itu,heheh
manis sekali ceritanya pertemuaa 2 sejoli yang memperjuangkan kekuatan cinta mereka sampai 55tahun keren..
itu baru cinta sejati kali yaa
tapi bun kenapa tidak di pajang fotonya??kan mau liat buat inspirasi gitu
cinta itu emang sulit di pahami…
tp aku percaya cinta itu indah,,, walau terkadang slalu menyakitkan
Bunda Ly …
Fotonya itu lucu … sekaligus manis banget …
sangat manis …
I like the photo
salam saya
Assalaamu’alaikum wr.wb, Bunda…
Saya cemburu sekali melihat keindahan cinta mereka. Semoga mereka berbahagia selama-lamanya.
SELAMAT HARI IBU untuk semua anak-anak dan ibu-ibu di Indonesia yang meraikan HARI IBU pada hari ini. Sebagai menghargai ibu yang dicintai, saya menghadiahkan 2 AWARD HARI IBU untuk dijadikan kenangan dari Malaysia.
Silakan kutip award-award tersebut di sini:
http://webctfatimah.wordpress.com/2012/12/22/ct143-22-disember-2012-selamat-hari-ibu-untuk-sahabatku-ibu-ibu-di-indonesia/
Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.
salam bu
aamiin.. barokah senantiasa untuk cinta ayah dan ummi.
peluk tjium wat mamih,
love always.