Fungsi pertama Kabah, sebagaimana dinyatakan dalam surah Al-Baqarah 125, yaitu matsabah, yang berarti ”tempat pengakuan dosa.”

Lalu fungsi kedua adalah amn (aman).
Dalam tulisan ini hanya akan dibahas tentang fungsi yang kedua.

Amn, sebagaimana dikemukakan para ulama tafsir, mengandung dua arti: keamanan dan kedamaian (sakinah).

Mengenai keamanan, itu bermula dari doa Nabi Ibrahim, ”Tuhanku! Jadikanlah negeri ini aman dan beri penduduknya rezeki buah-buahan…” (Q. S. 4: 35).

Doa itu dikabulkan Allah swt sebagaimana diperoleh data-datanya dalam Alquran.

Dalam sejarah diketahui bahwa seluruh suku Arab sangat menghormati Tempat Suci (Ka’bah) itu, sehingga mereka tidak mau menumpahkan darah di sana.

Alquran juga menginformasikannya, ”Siapa yang memasukinya aman.” (Q. S. 3: 97).

Tidak hanya tempat itu yang dijadikan aman, tapi juga suku Quraisy yang menjaga Ka’bah itu, karena suku-suku Arab menghormati mereka sebagai penjaganya (Al-Quraisy 106).

Dalam sejarah diketahui bahwa tidak amannya kawasan-kawasan sekelilingnya itu adalah karena mentalitas jahiliyah mereka, yaitu bahwa yang berlaku adalah ”hukum padang pasir,” yang kuat memakan yang lemah.

Segi kedua keamanan, sebagaimana dikemukakan di atas, adalah kedamaian.

Berbeda dengan segi pertama yang menekankan aspek fisiknya, segi kedua ini berkaitan dengan aspek mental, yaitu keamanan di akhirat.

Hal itu karena beribadah di depan Ka’bah menimbulkan perasaan dekat dengan Allah swt, dan segala ibadah yang dikerjakan dan seluruh ritual haji pada umumnya kiranya didengar dan diperhatikan langsung oleh Allah swt.

Perhatikanlah, misalnya, hadist-hadist tentang dikabulkannya doa di Multazam, Arafah, Mina, dan diimbalinya pahala seratus ribu kali lebih besar dari ibadah yang dikerjakan di masjid-masjid lain.

Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa segala perbuatan dan doa kita memang langsung terbukti di saat itu juga.
Dengan demikian, hasil ibadah haji akan menentukan sejarah hidup manusia selanjutnya.

Demikianlah, semakin banyak manusia pergi haji semakin aman dunia dan semakin maju masyarakat.

Meski begitu, jamaah haji tidak boleh lengah, karena tempat yang betul-betul dijamin Allah keamanannya hanyalah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Di luar itu, kehidupan mengikuti hukum sosialnya.
Kehidupan jahiliyah itu akan selalu ada dan di manapun, tidak hanya di Arab.

Maka apabila ada di antara jamaah kita yang mendapat sesuatu yang tidak layak, maka itu adalah karena sisa-sisa mentalitas jahiliyah yang belum habis itu.

Salam.

Dari : berbagai sumber

gambar: heritage images

About these ads

About bundadontworry

Ibu rumah tangga dengan 2 anak

2 responses »

  1. @SobatBercahaya says:

    Aman tidak berarti nyaman kan bun?
    misalnya waktu Ibadah haji katanya berdesak2 sampai ada yang terinjak2 hanya ingin menyentuh kabah atau mencium hajar aswad.


    aman dan nyaman itu sudh dijanjikan Allah swt bagi Nabi Ibrahim as dan anak cucunya , termasuk kita semua ……..
    kenapa sampai terinjak2?
    karena kita masih saja tdk sabar dgn mengedepankan hawa nafsu , ingin ini, ingin itu….ingin lebih dulu, dll dsbnya….
    kalau saja mau bersabar dan tawakal , pastinya gak kan kejadian itu yg namanya desak2an sampai terinjak :P
    salam

  2. Yang aman itu cuma dalam kompleks ka’bah aja ya bun?

Terimakasih banyak sahabat tersayang, untuk apresiasinya melalui komentar dibawah ini .........

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s