Dua orang pegawai tampak masih sibuk pada pekerjaannya, meski malam sudah mengisyaratkan mereka untuk istirahat.
Di gedung megah yang sehari-hari menjadi kantor tempat mereka berkerja itu sudah tidak ada lagi pegawai.
Kecuali, petugas keamanan malam.
Rumah Terakhir
Salah seorang yang bertubuh kurus pun berujar,
” Ah, hari yang melelahkan. Saatnya pulang ke rumah.”
Seorang yang agak gemuk hanya menoleh sebentar, kemudian kembali dengan kesibukannya.
Ia hanya membalas ucapan temannya yang mulai berkemas dengan senyum.
“ Aku lembur lagi !” ucapnya singkat.
“ Apa kamu tidak kangen dengan isteri dan anak-anakmu ?” tanya si kurus mulai beranjak menuju pintu.
” Entahlah, aku merasa lebih nyaman berada di sini,” jawab si gemuk sambil terus sibuk dengan pekerjaannya.
” Ruangan ini sudah seperti rumahku,” tambahnya begitu meyakinkan.
Si kurus menatap temannya begitu lekat.
Sebelum langkah kakinya meninggalkan sang teman, ia tergelitik untuk mengucapkan sesuatu:
”Menurutku, kamu bukan tidak ingin pulang.
Tapi, kamu belum paham apa arti pulang.”
Angan angan sederhana yang kerap muncul di kepala siapa pun ketika ia begitu lama berada di luar rumah adalah pulang.
Seorang pejabatkah, pegawaikah, pengusahakah, pelajar dan mahasiswakah; titik akhir dari akumulasi kelelahannya berinteraksi dengan dinamika hidup selalu tertuju pada pulang.
Kata pulang menjadi perwakilan dari seribu satu rasa yang tertuju pada kerinduan kerinduan dengan sesuatu yang sudah menjadi ikatan kuat dalam diri seseorang.
Sesuatu yang tidak mungkin untuk dipisahkan, karena dari situlah ia berasal dan di situ pula ia menemukan jati dirinya.
Dalam skala hidup yang lebih luas, pulang adalah kembalinya manusia pada asalnya yang tidak mungkin dielakkan.
Apa dan bagaimana pun keadaannya, suka atau tidak pun rasa ingin pulangnya, jauh atau dekat pun perginya, dan ada atau tidaknya kerinduan terhadap arah pulang yang satu ini; setiap kita pasti akan ’pulang’.
Walaupun, tidak sedikit orang yang merasa lebih nyaman berada di dunia ini daripada berhasrat menuju ’pulang’.
Persis seperti yang diungkapkan si kurus kepada temannya,
” Kita bukan tidak ingin ’pulang’.
Tapi, kita mungkin belum memahami arti ’pulang’.”
Salam
Gambar diambil dari sini
Note :
Tulisan ini terinspirasi dari kejadian tiga hari berturut turut yang saya alami, dengan berpulangnya teman saya ke Rahmatullah karena ‘kalah’ dan akhirnya menyerah pada kanker yang mereka derita.
Semoga Allah swt melapangkan jalan mereka menuju rumahNYA dengan bahagia, aamiin






pulang untuk selamanya ya bund
jadi ingat yang 5 sebelum datang yang 5
1. ingatlah sehatmu sebelum datang sakitmu
2. ingatlah kayamu sebelum datang miskinmu
3. ingatlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu
4. ingatlah waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu
5. ingatlah hidupmu sebelum datang matimu
Senang menyimak tulisan Anda
Salam,
Inilah arti luas dari kata2 ‘pulang’ yang sebenarnya
pada akhirnya semua akan “pulang”. semua. cuman mungkin beda waktunya aja ya bun.
sangat menyentuh dan sedih sekali .
Apakah hanya manusia yang pasti kembali ( di kembalikan/hidup).
artikelnya bagus sekali
Ikut menyimak artikelnya Bun
Salam,
Pada akhirnya kita juga akan pulang kampung yach Bunda
terima kasih bunda
semoga dhe juga bisa segera memahami makna ‘pulang’ bund, biar lebih hati2 memperisapkan bekal untuk perjalanan pulang.. apa kabar bunda??
astaghfirullah… kita sering lalai
Salam kenal Bunda, pertama berkunjung nih.
….
Pulang-Pergi
Pergi-Pulang
kewajaran dalam kehidupan manusia
dan bukan kewajaran sebenarnya kalau kita lupa bahkan tidak tahu apa yang seharusnya kita bawa saat kita pergi dan saat kita pulang.
Semoga kita berada dalam golongan orang2 yang selalu ingat -”ELING LAN WASPADA”
…
sangat menyentuh sekali,,
bun, belum ada yang baru nih artikelnya…
“Pulang” dalam arti yang sangat dalam……..